Banten, Republik Komedi Nusantara —
Ketika siswa SMA dan SMK di Banten makin rajin “belajar silat” di jalanan alias tawuran, Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, muncul dengan solusi yang sakral sekaligus nyeleneh: kirim mereka ke barak militer!
Ya, Anda tidak salah baca. Bukan ke ruang BK, bukan pula ke ruang konseling, tapi langsung ke barak ala tentara—dengan harapan mereka jadi anak baik, disiplin, dan tentu saja cinta Tanah Air.
Gareng, dengan ekspresi heran mirip tokoh sinetron yang baru tahu kalau anaknya bukan anak kandung, berseru,
> “Waduh, Pak Wakil Gub, ini anak SMA, bukan pasukan cadangan! Jangan-jangan abis dari sana mereka nyebut PR sebagai ‘perintah harian komandan’!”
Petruk, yang biasanya kalem, kali ini ikut nyeletuk dengan gaya khasnya yang polos-pedas:
> “Apa tidak salah alamat? Anak tawuran dibawa ke barak? Mungkin mereka butuh guru BK yang bisa dengerin curhat, bukan instruktur yang teriak ‘siap komandan!’ dari subuh!”
Gareng makin semangat, sambil ngeteh di warung kopi langganan, ia mengulas,
> “Pak Dimyati bilang ini demi bela negara. Tapi jangan sampai demi cinta Tanah Air, anak-anak malah jadi robot. Taunya cuma ‘yes sir’, tapi lupa bilang ‘maaf, bu’ ke ibunya sendiri!”
Petruk manggut-manggut dengan gaya dosen filsafat yang baru denger teori baru,
> “Saya takut anak-anak jadi disiplin, iya… tapi kehilangan empati. Bisa push-up seratus kali, tapi nggak bisa bilang ‘aku salah’. Bisa baris-berbaris, tapi hatinya kaku kayak sandal jepit bekas dihujan-hujan.”
Tapi jangan salah sangka, duo pelawak ini bukan cuma nyinyir. Mereka ngerti betul niat Pak Wakil Gub itu baik. Tawuran memang masalah serius. Tapi, mereka cuma ingin mengingatkan: jangan sampai anak-anak yang sedang mencari jati diri malah “dikirim ke kamp militer” kayak film perang.
> Gareng nutup obrolan dengan kalimat menohok,
“Kalau cuma mau bikin mereka takut, ya gampang. Tapi membina dengan kasih sayang dan pendidikan? Nah, itu baru jenderal sejati!”
Dan Petruk, seperti biasa, kasih penutup manis dengan sindiran halus,
> “Semoga ini bukan drama laga. Soalnya kami lebih suka cerita bahagia: anak-anak kembali ke sekolah, belajar, bukan baris di lapangan!”
Akhir kata, barak militer memang tempat menempa, tapi anak-anak bukan besi—mereka jiwa muda yang sedang butuh dibentuk, bukan ditempa pakai pentungan. Semoga petinggi negeri bisa mendengar suara Gareng dan Petruk, dua tokoh rakyat jelata yang hatinya tetap cerdas dan jenaka.
















