Gareng:
Sabtu pagi, Jakarta panas bukan main, bukan karena cuaca, tapi karena semangat solidaritas yang membara! Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) turun ke jalan depan Sahid Sudirman Center, bukan buat cari promo sushi, tapi buat protes PHK sepihak ala “Geengki Sushi”—waralaba yang kayaknya doyan menggulung lebih dari sekadar nori dan nasi!
Petruk:
Wah, Le Gareng, ini baru namanya sushi berselimut masalah! Dua pekerja, Sis Diana Hidayat dan Sdr Ryan Ray Mahesa, katanya diberhentikan dengan alasan “efisiensi”. Tapi anehnya, habis nutup outlet di Lotte Mart Kuningan, si perusahaan malah buka cabang baru di Mall Lippo Nusantara (yang dulunya Plaza Semanggi). Efisiensi kok malah ekspansi? Ini bukan strategi bisnis, Bro… ini siasat licin kayak kulit salmon!
Gareng:
Betul, Truk! Kalau katanya PHK karena rugi, kok bisa nyewa mall lagi? Jangan-jangan ini bukan soal efisiensi, tapi anti-serikatisasi. Gaya klasik: karyawan aktif berserikat langsung di-sushi roll keluar dari sistem. Padahal katanya kita ini negara hukum, bukan negara yang hobinya menggulung hak orang.
Petruk:
Sdr. M Husni Mubarok, yang tampil kayak pendekar buruh bersarung semangat, bilang dengan tegas:
“PHK ini bukan karena rugi, tapi karena takut diingatkan kewajiban pada pekerja!”
Wah, ini bukan sushi rasa keju, tapi sushi rasa intimidasi! Udah gitu, pakai topping “alasan efisiensi” biar kelihatan wajar. Lha padahal? Dalemnya niat buruk dibungkus corporate language.
Gareng:
FSPM juga nggak tinggal diam. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, tapi ritual pengingat buat manajemen: bahwa buruh bukan benda mati yang bisa digeser seenaknya. Pekerja itu punya hati, punya keluarga, dan—yang lebih penting—punya hak hukum yang sahih. Jangan mentang-mentang jualan di mall, terus seenaknya ngemall-in nasib orang!
Petruk:
Yang bikin adem meskipun Jakarta panas, aksinya berlangsung damai. Nggak ada lempar sushi, nggak ada sobek seragam. Hanya suara nyaring dari hati para pekerja yang merasa diperlakukan kayak wasabi—ditaruh diam-diam, tapi bikin perih banget!
Dan ya, pengawalannya juga oke. Polisi hadir bukan buat represi, tapi buat jaga-jaga… siapa tahu manajemen Geengki mau kabur lewat pintu belakang.
Gareng:
Makanya, kami Gareng dan Petruk bilang:
Geengki, jangan cuma jago bikin sushi—belajarlah juga bikin keadilan!
Karyawan itu bukan bahan isi roll, bukan topping sementara. Mereka adalah inti bisnis, bukan item dispensable.
Petruk:
Kalau kamu nggak mau diingatkan hak pekerja, ya jangan buka usaha.
Buka hati dulu… baru buka outlet!

Gareng & Petruk,
Duo penggulung kritik, bukan karyawan kontrak.
Karena keadilan tidak boleh dibungkus plastik, apalagi disajikan dingin.
Liputan Langsung dari Jalan Sudirman, Jakarta
Editor: Redaksi GarengPetruk – Media Satir, Tapi Tak Main-main
















