Petruk nyatet – Gareng nyindir. Baluran lagi-lagi bukan cuma tempat wisata liat banteng, tapi juga jadi arena horor jagal sapi. Jumat (23/5), seekor sapi warga Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, ditemukan mengenaskan. Bukan lagi ngembik di padang rumput, tapi sudah jadi korban mutilasi profesional. Daging bagian paha, yang katanya empuk dan berlemak sempurna, raib dibawa kawanan jagal malam.
Warga bernama Hasan Asyari yang pertama tahu kejadian ini. Ia bukan detektif, cuma warga biasa yang lagi ngawal sapi ke hutan, eh malah nemu sapi teman sejenisnya sudah tewas tragis. Kepala dan empat kakinya dipotong, sisanya tinggal tulang belulang dan kesedihan. “Kemungkinan besar pelakunya nembak dulu, kena di bawah telinga. Baru diproses kayak daging kurban,” katanya sambil geleng-geleng.
Jagal Bukan Kaleng-Kaleng
Kalau lihat caranya, ini bukan maling kelas teri. Ngulitin sapi itu nggak semudah ngulitin nangka. “Kulitnya rapi, potongannya presisi. Ini pasti kerjaan tim, bukan solo player,” imbuh Hasan.
Kayak tim proyek, ada yang megang pisau, ada yang ngawasi situasi, ada yang bawa karung, dan ada yang doain lancar… mungkin.
Tapi yang lebih mengiris dari daging sapi itu sendiri, adalah kenyataan bahwa… warga sudah malas lapor polisi.
Bukan karena mereka anti hukum, tapi karena laporannya biasanya cuma nyangkut di map, bukan nyampe ke pelaku.
“Dari tahun ke tahun, gak pernah ketangkap. Ya sudahlah,” kata warga, dengan nada pasrah level dewa.
Gareng nyeletuk:
“Kabeh sing ilang ketemu: sandal ilang ketemu, mantan ilang ketemu pas lebaran. Tapi maling sapi? Ndak pernah ketemu, Pak Polisi! Aja-aja maling sapi luwih pinter tinimbang penyidik!”
Polisi: “Kami Tahu, Tapi Gak Ada Yang Lapor”
Kanit Reskrim Polsek Banyuputih, Imam Kurtubi, membenarkan kejadian ini. Tapi ya itu, tidak ada laporan resmi dari pemilik sapi.
“Informasinya kami terima. Tapi kalau gak ada laporan, ya sulit kami bergerak,” ujarnya.
Lha piye to, Pak? Sapi ilang, warga takut rugi dua kali: hilang sapinya, terus bolak-balik kantor polisi cuma buat pulang dengan janji manis.
Petruk nambahin: “Warga itu butuh aksi, bukan absen.”
Kritik Lembut Tapi Nyelekit
Yah, kalau maling sapi udah lebih jago dari sistem keamanan, jangan-jangan bentar lagi mereka buka startup: JagalinAja.com – Daging Premium, Tanpa Izin.
Bisa jadi, ini yang disebut ekonomi alternatif desa. Tapi tolonglah… jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan karena hukum terlalu lama ‘loading’. Polisi jangan cuma jago nangkep netizen yang nyinyir di TikTok, tapi sapi ilang malah dianggap kayak kejadian alam biasa.
Ayo, Satpol Sapi, bergerak!
Sebelum korban bertambah, dan warga jadi paranoid setiap dengar embikan sapi malam hari. Jangan sampai nanti warga lebih percaya dukun sapi ketimbang penyidik resmi negara.
















