Kampung Meracang, Serang – Di saat banyak orang masih sibuk nyalahin cuaca buat nasib yang tak kunjung cerah, seorang perempuan tangguh bernama Rohimah malah memilih menjemput mentari dengan tangannya sendiri. Bukan dengan janji-janji palsu ala caleg musiman, tapi dengan paku, kayu, dan semangat baja bikinan sendiri.
Perempuan bersahaja dari Desa Kendayakan, Kecamatan Keragilan, Kabupaten Serang ini bukan hanya ibu dari anak-anaknya, tapi juga ayah, manajer keuangan, tukang bangunan, sekaligus chef dadakan. Lengkap, kan? Kalau bisa dikasih penghargaan multi-peran, doi sudah layak dapat Piala GarengPetruk Lifetime Achievement!

“Dari Gurun ke Gubuk Saung”
Tiga tahun lamanya Rohimah merantau ke Negeri Minyak – Arab Saudi. Bukan buat cari jodoh pangeran atau bikin konten TikTok naik unta, tapi buat cari sesuap nasi dan sebongkah harapan.
“Kalau bukan saya, siapa lagi?” katanya suatu siang sambil ngaduk adonan cilok di saung barunya yang berdiri anggun di atas kolam. Kolamnya bukan kolam renang ala selebgram, tapi kolam cita-cita: tempat impian itu digoreng pelan-pelan dengan minyak usaha keras.
Kini, setelah pulang kampung dengan tangan tak kosong tapi juga tak berlebih, ia membangun sebuah saung kuliner sederhana. Cuma pakai modal tekad, beberapa lembar duit, dan doa dari ayahnya yang masih setia mendampingi. Emak-emak satu ini tak cuma ingin berjualan, tapi ingin menyajikan kedekatan keluarga dalam semangkuk mie rebus dan secangkir teh manis.
“Saung Cinta, Saung Penuh Doa”
Saung itu bukan cuma tempat makan. Itu adalah monumen kecil perlawanan atas dunia yang kadang tak adil bagi perempuan. Ketika banyak ayah ngilang pas deadline SPP, Rohimah justru hadir setiap hari. Kalau air mata bisa dijual, mungkin dia sudah tajir. Tapi dia memilih jual gorengan, karena lebih mengenyangkan dan bisa dibagi-bagi ke tetangga.
Yang bikin kagum, walau hidupnya seperti ditarik dua arah—sebagai ibu dan ayah—dia masih sempat berbagi dengan anak-anak yatim di kampungnya. Saat banyak pejabat sibuk nyari panggung, Bu Rohimah justru sibuk cari cara biar tetangganya juga bisa makan enak. Nah, itu baru perempuan hebat, bukan sekadar modal followers!

“Sindiran dari Kolam”
Kisah Rohimah ini bagai tamparan halus—ya halus tapi nyelekit—buat mereka yang masih suka ngeluh soal sinyal WiFi lelet atau harga kopi naik. Dia nggak nunggu bantuan pemerintah (yang kadang datang bareng musim panen janji), tapi langsung gas bikin saung sendiri. Kalau dia bisa bertahan dan bahkan memberi, kita? Masih alasan terus?
Gareng & Petruk Ngomong Gini:
Gareng: “Coba semua ibu punya semangat kayak Bu Rohimah, mungkin bapak-bapak bisa pensiun dini ngurusin ego masing-masing!”
Petruk: “Heleh, Saung Bu Rohimah itu lebih adem daripada rapat DPR! Makanannya ada, hatinya hangat, dan nggak banyak omong kosong.”
Jadi, kalau suatu hari kalian nyasar ke Kampung Meracang, mampirlah ke Saung Rohimah di atas kolam. Mungkin nggak cuma kenyang perut, tapi juga kenyang makna.
Karena dari tempat sederhana itu, kita bisa belajar bahwa menjadi “ibu sekaligus ayah” bukan soal gender, tapi soal keberanian mencintai tanpa jeda.
#SaungCintaRohimah
#IbuAdalahSegalanya
#GarengPetrukLaporDariSerang
#KritikDenganCinta
















