SERANG — Di tengah deru dunia yang makin ribut antara promo Paylater dan drama utang online, masih ada suara hati yang bergema dari Mushola kecil di pinggir Perumahan Ciujung Damai, Keragilan, Serang.
Namanya Mushola Bustanil Mukhlisin, tempat wudu yang wangi, sandal yang teratur, dan suara adzan yang bikin merinding bukan karena toa, tapi karena hatinya. Dan setiap 10 Muharram, ada tradisi yang lebih mulia dari giveaway TikTok: santunan anak yatim.
Berbagi, Bukan Basa-Basi
Hari itu, bukan hanya nasi kotak yang dibagikan. Tapi juga senyum, doa, dan pelukan. Kegiatan santunan yang digelar oleh tim Kerohanian RT 03 ini sudah jadi tradisi. Bukan sekadar seremoni, tapi ritual hati.
“Kita tidak sedang menyantuni. Kita sedang belajar mencintai,” ujar Ketua DKM Mushola dalam sambutannya, sambil memegang mic dengan satu tangan dan hati di tangan lainnya.
Santunan bukan hanya soal amplop isi Rp 50 ribuan yang biasanya dibuka dulu sebelum bilang terima kasih. Tapi tentang mengajarkan empati di tengah masyarakat yang kadang sibuk update status tapi lupa update nurani.
Anak Yatim, Bukan Anak Musiman
Yang bikin sejuk bukan hanya kipas angin mushola, tapi juga keikhlasan warga yang ikut urunan tanpa embel-embel pencitraan. Ketua DKM juga menegaskan bahwa perhatian kepada anak yatim jangan musiman.
“Kalau bisa, tiap hari kasih perhatian. Jangan cuma pas bulan Muharram atau pas pengajian Pak Ustaz viral datang.”
Anak yatim bukan konten dadakan. Mereka adalah amanah kehidupan, bukan objek lensa kamera SLR yang dibawa relawan dadakan tiap hari besar Islam.
Bertahan dengan Kebaikan, Bukan Bansos Instan
Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa membahagiakan anak yatim bukan tentang berapa gram beras yang dibagi, tapi tentang berapa tulus kita menyapa dan mendekap mereka.
Di zaman di mana influencer bisa viral karena ngasih amplop sambil joget, Mushola Bustanil Mukhlisin memilih jalan sunyi: memberi tanpa ingin di-endorse.
Anak-anak yatim datang dengan wajah polos dan mata yang menyimpan harapan. Mereka mungkin tidak tahu siapa itu algoritma, tapi mereka tahu siapa yang benar-benar peduli.
OPINI GARENG-PETRUK:
“Kalau Bisa Bikin Senyum Yatim, Ngapain Masih Sibuk Posting Mobil Baru?”
Gareng dan Petruk berdiri hormat untuk warga RT 03 yang tidak sibuk nuntut subsidi, tapi sibuk menyubsidi senyuman anak-anak yatim.
Kata Gareng: “Zakat, infak, dan sedekah itu bukan pajak moral. Itu investasi hati.”
Kata Petruk: “Masyarakat kadang rela antri diskon daging, tapi ogah antri berbagi. Ini mushola kecil, tapi nuraninya gede banget!”
Di tengah krisis empati dan banjir konten flexing, kegiatan santunan ini adalah tamparan manis:
Bahwa hati yang peka tidak butuh kuota, cukup niat dan air mata yang jujur.
Harian Nasional Gareng Petruk
– Santun dalam Lelucon, Serius dalam Kemanusiaan –














