Tangerang Selatan, garengpetruk.com //
Satu hari jelang Hari Raya Idul Adha 1446 H, suasana di lapak Syarif Kalepe dan kawan-kawan di Rawa Mekar Jaya Serpong sudah seperti konser dadakan: ramai, semarak, dan bau sapi lebih menggoda daripada parfum diskon di mal.
Dengan suara semangat setara tukang parkir menjelang Lebaran, Mas Syarif Kalepe—bos sapi dari Bima, NTB—memandikan satu persatu hewan kurban seperti lagi nyalonin artis dangdut yang mau tampil di TVRI.
> “Kita mandikan dulu, biar pelanggan puas. Kurban itu bukan sekadar potong-potong, tapi juga soal pelayanan dari hati,” ujar Syarif sambil menyeka peluh di jidat yang lebih bercahaya dari lampu LED di mushola.

Oh iya, para pedagang ini bukan sembarang jualan. Mereka semua kompak pakai kaos Prabowo-Gibran. Entah ini strategi marketing atau endorse gratis, yang jelas sapi-sapi mereka kelihatan lebih percaya diri. Mungkin karena merasa punya ‘backing politik’? Atau sekadar biar sapi-sapi ini tahu, mereka dijual dalam suasana nasionalisme?
—
Laris Manis, Tapi Jangan Lupa Manisnya Ikhlas
Sapi-sapi dari Bima ini bukan kaleng-kaleng. Beratnya 400 kilogram, bukan berat janji-janji politik, tapi daging betulan. Syarif mengaku seluruh 66 ekor stoknya sudah ludes dibeli, bahkan 15 ekor tambahan pun langsung habis diborong pelanggan dari grup WA “Sapi Sunnah Jabodetabek”.
Hebat! Tapi semoga bukan cuma sapi yang laku, tapi juga nilai keikhlasan, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sosial. Jangan sampai kita sibuk potong sapi, tapi lupa potong kesombongan. Atau malah, potong rejeki tetangga demi dapat harga diskonan dari relasi luar kota.
—
Sapi Bima: Dagingnya Oke, Tapi Jangan Cuma Daging yang Dinilai
Kata Bu Naya, pelanggan setia yang sudah jadi langganan sejak zaman harga daging belum sekilogram seratus ribu, dia puas dengan harga dan kualitas sapi di sini. “Dagingnya bagus, sapinya sehat, dan penjualnya ramah,” ujar Bu Naya sambil selfie bareng sapi favoritnya.
Tapi tunggu, apakah manusia sekarang cuma nilai hewan dari dagingnya? Padahal banyak di antara kita yang sesama manusia pun tak dihargai, walau hatinya lebih lembut dari sirloin.

—
Catatan Gareng: Kurban Itu Bukan Cuma Soal Sapi, Tapi Soal Siapa yang Mau Disapa
Syarif Kalepe sudah jual habis semua sapinya. Hebat. Tapi semoga nilai kurban tidak ikut habis. Kurban adalah pengingat bahwa yang paling mahal itu bukan daging sapi, tapi ketulusan memberi. Kalau sapinya besar tapi hatinya kecil, itu sama saja kayak ngasih kado mewah tapi diselipin tagihan.
Mari kita rayakan Idul Adha bukan hanya dengan potong sapi dan unggahannya di Instagram, tapi juga dengan memotong rasa baper, memotong keegoisan, dan menyisihkan rejeki buat mereka yang diam-diam masih nunggu bantuan datang.
—
Akhir kata, salam dari Gareng Petruk:
“Kalau sapi sudah siap dikurbankan, masa kita yang manusia masih pelit untuk berbagi dan memaafkan? Sapi diam, tapi mengajarkan banyak. Kita cerewet, tapi kadang lupa belajar dari makhluk yang lebih tulus…”
Selamat Idul Adha 1446 H, semoga kita semua tidak cuma kenyang di perut, tapi juga penuh di hati.
🕌🐄📿
(Red/AMS)
















