Oleh Tim Redaksi Gareng Petruk
Di sebuah negeri yang katanya “gemah ripah loh jinawi,” keadilan bukan lagi soal benar atau salah. Di sini, keadilan adalah pertunjukan sirkus, di mana hakim jadi pesulap, jaksa jadi badut, dan hukum? Ya, hukum jadi boneka yang dipermainkan penguasa.
Masyarakat kecil mungkin masih percaya bahwa hukum itu seperti timbangan: adil dan seimbang. Tapi coba lihat lebih dekat. Timbangan itu sudah miring sejak lama, seperti menara Pisa yang mau roboh tapi tetap berdiri. Bedanya, timbangan hukum kita tidak akan pernah jadi objek wisata.
Tersangka Berdasi vs Tersangka Sendal Jepit
Keadilan di negeri ini sering kali seperti restoran mahal. Yang bisa membayar akan dilayani dengan senyuman dan hidangan terbaik. Yang tidak punya uang? Silakan antri di dapur belakang, kalau pun kebagian.
Contoh paling segar adalah si tersangka berdasi yang tertangkap basah mencuri uang rakyat. Dengan santai ia tersenyum di depan kamera, beralasan “lupa,” dan akhirnya dapat vonis ringan. Bandingkan dengan si pedagang kecil yang menjual bensin eceran tanpa izin. Hukuman? Dua tahun penjara tanpa ampun, plus kehilangan kiosnya.
“Lho, ini kan demi penegakan hukum!” kata seorang pejabat hukum dengan wajah penuh senyuman. Ya, hukum ditegakkan… tapi hanya untuk yang lemah.
Ketika Pengadilan Menjadi Panggung Opera
Ruang pengadilan kita kini lebih mirip panggung opera. Ada drama, ada air mata, ada adegan sandiwara. Para aktor—eh, maksud kami terdakwa—berlomba-lomba memainkan peran terbaik mereka.
Hakim yang katanya mewakili keadilan sering kali lebih fokus pada naskah undang-undang, lupa melihat kenyataan di depan mata. Jaksa sibuk berdebat, tapi lebih sering mengutip pasal-pasal yang hanya cocok untuk kepentingan mereka. Dan pengacara? Kalau kliennya kaya, pembelaannya seperti puisi yang indah. Kalau kliennya miskin, ya sekadarnya saja.
Keadilan untuk Siapa?
Masalahnya bukan pada hukum itu sendiri. Masalahnya adalah pada bagaimana hukum dipakai. Di negeri ini, hukum adalah pisau cukur: tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Ketika orang kecil meminta keadilan, ia harus bersiap membawa semua bukti, saksi, dan bahkan doa agar bisa didengar. Tapi, ketika orang besar butuh perlindungan, hukum dengan cepat melindungi mereka seperti payung yang tahan badai.
“Kita sudah berusaha adil,” kata seorang pejabat hukum, dengan wajah datar yang sulit dibedakan dengan patung. Tentu saja, adil versi mereka adalah membiarkan yang kuat menang dan yang lemah tumbang.
Keadilan atau Komedi?
Dalam pertunjukan hukum di negeri ini, kita semua adalah penonton. Dan seperti halnya dalam komedi, kita sering tertawa—bukan karena lucu, tetapi karena tak ada lagi yang bisa dilakukan selain tertawa pahit.
Ketika seorang petani dipenjara karena mencuri semangka, sementara koruptor miliaran rupiah hanya dijatuhi hukuman percobaan, apa yang bisa kita katakan? Apakah itu keadilan? Atau hanya lelucon buruk yang terus diulang-ulang?
Penutup: Jangan Lupa Tertawa
Keadilan di negeri ini adalah sebuah ironi, sebuah dongeng yang tak pernah selesai. Di atas panggungnya, para aktor hukum terus bermain dengan gaya mereka, sementara rakyat hanya bisa berharap pada keajaiban.
Tapi, hei, setidaknya kita masih bisa tertawa, bukan? Karena dalam lelucon yang gelap ini, tertawa adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.
Gareng: “Ke mana perginya keadilan, Petruk?”
Petruk: “Ke tempat di mana timbangan hukum tidak miring, Gareng. Sayangnya, itu bukan di sini.”
Ditulis dengan rasa getir dan secuil humor khas Gareng Petruk.
















