SITUBONDO – Di tengah maraknya pengaduan rakyat soal pelanggaran hukum yang bikin jidat berkerut dan dompet makin kurus, ternyata masih ada harapan dari ujung timur Pulau Jawa. Bukan datang dari superhero Marvel, tapi dari Fajar Gondrong, wartawan gondrong dengan motor unik yang lincahnya ngalahin kancil rebutan sembako.
Setiap hari, si Gondrong ini menerima laporan pelanggaran hukum. Tapi, jangan salah, lur! Bukan cuma urusan KTP ganda atau proyek mangkrak yang dia dengerin, tapi juga curhatan sakit gigi, encok, sampe sakit hati karena cinta tak sampai.
> “Kadang orang ngadu proyek fiktif, eh, tiba-tiba curhat gusi bengkak. Ya saya dengerin, siapa tahu gigi lebih penting daripada korupsi,” ujar Fajar sambil nyengir.
Dari Investigasi ke Pengobatan: Azis Chemoth Turun Gunung
Melihat banyaknya keluhan rakyat yang bukan cuma soal hukum tapi juga soal kesehatan, si Gondrong gak tinggal diam. Ia menggandeng Azis Chemoth, pewarta yang juga murid dari I Gusti Putu Wirawan—master pengobatan dari Padepokan Surya Kanta, Denpasar Bali.
Mereka berdua bukan datang dengan rompi LSM atau kamera wartawan, tapi dengan niat tulus mengobati rakyat kecil yang sakit tapi takut ke dokter karena takut tagihan.
> “Ini pengobatan setulus hati, bukan setulus invoice,” celetuk Azis sambil meracik ramuan dari doa, energi positif, dan ilmu warisan Nusantara.
Salah satu pasien legendaris adalah Misyono, anggota Harian Nasional Gareng Petruk Situbondo, yang manis tapi tidak kencing manis. Ia membuktikan bahwa sakit gigi bisa sembuh dalam hitungan detik, asalkan benar-benar sakit, bukan modus biar dikasih perhatian mantan.
> “Saya sembuh, lur. Tapi ingat, kami hanya mengobati, Tuhan yang menyembuhkan. Kita ini cuma titipan tangan, bukan Tuhan dadakan,” ujar Azis dengan wajah tenang dan sandal jepitnya.
Fajar Gondrong: Wartawan, Aktivis, Tukang Obat Gigi Temporer
Di tengah aktivitasnya mengawal keadilan dari warung kopi ke kantor desa, Fajar Gondrong malah kena batunya. Ia sendiri mendadak sakit gigi karena kelamaan gak gosok gigi!
> “Ya beginilah hidup, kadang kita bantu orang lain, eh, lupa ngurus mulut sendiri. Tapi ya itu, pentingnya peduli. Jangan cuma sibuk cari kesalahan, tapi juga rawat kawan,” ujarnya sambil ngilu tapi tetap ketawa.
Menurut Gondrong, jadi wartawan atau aktivis bukan cuma soal menyuarakan yang benar, tapi juga menyentuh hati orang kecil, termasuk ketika mereka demam, pilek, atau cuma butuh teman ngobrol.
> “Jangan nunggu orang pingsan dulu baru kita peduli. Kalau bisa bantu sebelum batuknya jadi bronkitis, kenapa nunggu opname?”
—
Komentar Gareng Petruk:
> “Wartawan jaman now harus multitalenta: bisa liput, bisa ngobati, bisa juga bikin orang ketawa meski lagi nelangsa. Harian Nasional Gareng Petruk Situbondo udah di jalur yang benar, lur!”
> “Ini bukan LSM abal-abal yang teriak ‘selamatkan rakyat’ tapi makannya di hotel bintang lima. Ini betulan rakyat bantu rakyat. Gratis, ikhlas, gak pake embel-embel proposal.”
> “Jadi kalau sakit, jangan sungkan. Hubungi Gondrong atau Azis Chemoth. Tapi ingat, jangan pura-pura sakit demi konten TikTok!”
—
Akhir kata, sodara-sodara sekalian…
Kalau kalian ngeluh hidup makin berat, ingatlah:
> “Banyak di luar sana yang bukan cuma berat dompetnya, tapi juga pipinya bengkak karena gigi tak terurus. Maka mari saling bantu, sebelum gigi kita semua copot bersama.”
Salam Gareng Petruk, lur…
> “Seduh kopi, bakar rokok, buka HP… lalu mikir, apa sudah cukup jadi manusia yang berguna?”
—
#GarengPetrukPeduli #JurnalismeRasaManusia #PengobatanSetulusHati #WartawanSaktiSitubondo #FajarGondrongBukanKalengKaleng















