TEKS SUCI, DOMPET KOSONG, RAKYAT BENGONG
BEKASI – Ada yang bilang, “Teks bisa mengubah dunia.”
Tapi di warung Mbok Tini, teks cuma jadi alas gorengan.
Sementara perubahan? Tetap ditunggu kayak utang yang tak kunjung dilunasi.
Rakyat jelata, para penghuni kontrakan dan petani kentang, mulai bosan dengan pertunjukan demokrasi ala sinetron: banyak episode, plot-nya berputar, tokohnya itu-itu saja—dan semua tampak suci di teks, tapi bau amis di praktik.
Mas Radhar Tribaskoro, sang pujangga kritis, lewat opininya menyindir keras:
“Kita ini bukan kekurangan pasal, tapi kekurangan nyali!”
Waduh, nyali siapa nih yang ilang? Jangan-jangan lagi disimpan di laci meja kekuasaan bareng proposal bansos dan hasil survei pesanan?
KONSTITUSI: DARI SINGASANA KE LACI WARUNG
Cak Petruk, yang sehari-hari nyangkul di ladang ide, angkat bicara:
“UUD kita itu ibarat jas safari—luarnya licin, dalamnya keringetan. Dulu katanya ‘Kedaulatan di tangan rakyat’ eh pas dicek, tangannya sudah diikat koalisi superjumbo.”
Kita ini, kata Radhar, sudah gonta-ganti konstitusi kayak gonta-ganti casing HP. Tapi baterainya tetap soak. Sinyalnya lemah. Dan aplikasinya penuh iklan.
Katanya pemilu langsung memperkuat suara rakyat. Tapi rakyat mana? Yang punya duit suara makin nyaring, yang punya harapan cuma bisa sayup-sayup.
DEMO-KRASIS: KRISIS DALAM DEMOKRASI
Lucunya, dulu kita takut Presiden 3 periode. Sekarang kita malah disuguhkan menu baru: dinasti politik. Putra mahkota muncul dari mana-mana, sampai rakyat bingung ini pemilu atau reuni keluarga besar kekuasaan?
“Dulu kita demo karena takut Orba. Sekarang takut miskin sambil didemo. Ironisnya, teks yang katanya alat pembebasan, malah jadi alat penjinakan,” ucap Gareng sambil ngopi di bawah bendera partai bekas spanduk.
Teks hukum itu, kata Radhar, kadang seperti sarung mewah untuk hati yang bopeng. Cantik di luar, tapi kosong di dalam.
SOLUSINYA BUKAN TEKS, TAPI… TEK-AD!
Cak Petruk nyeletuk,
“Perubahan itu bukan karena huruf besar semua di pasal 1 ayat 2. Tapi karena rakyat besar hatinya, berani nyuarain kebenaran walau disorakin buzzer-buzzer!”
Kita butuh keberanian, bukan hanya kalimat panjang. Butuh sistem yang hidup, bukan cuma sistem yang diketik rapi lalu dipajang di sidang-sidangan mewah yang AC-nya lebih dingin dari hati nurani.
“Konstitusi tanpa kesadaran kolektif, ibarat peraturan main bola tapi bolanya bocor, dan wasitnya ngutang di tim lawan.”
SUARA TERDALAM: RAKYAT, BUKAN NARATOR DI TV
Gareng, sambil membetulkan celananya yang kebesaran di bagian mimpi, menutup dengan gaya khas:
“Teks itu bisa dicetak ulang. Tapi kejujuran, kesadaran, dan nyali rakyat… itu tidak bisa di-fotokopi. Perubahan sejati datang saat rakyat gak lagi berharap pada surat keputusan, tapi pada keputusan bersama untuk tidak tunduk pada kebohongan.”
Maka rakyat jelata hari ini tak butuh paragraf berbunga-bunga. Mereka butuh pemimpin yang tak cuma pandai baca teks pidato, tapi juga peka pada suara nyaring di tengah kesunyian: suara mereka.
Karena perubahan tak datang dari bunyi mikrofon. Tapi dari gerakan kaki yang terus berjalan. Meski kadang harus pincang karena ditendang kekuasaan.
Gitu wae kok repot?
Dari kontrakan ke konstitusi, dari panci kosong ke hati yang penuh tekad… rakyat terus melangkah, meski teks belum jujur bicara.
Bekasi, 26 Juli 2025
Redaksi Harian Nasional Gareng Petruk – Suara dari Dapur Rakyat














