Biro: Jember | garengpetruk.com – 26/6/2025
“Warungnya kelihatan jual kopi, tapi dalamnya banyak ‘pesan menu’ yang tak tercetak di daftar harga.”
Begitu celetukan warga Desa Pecoro yang kini tak bisa tidur nyenyak, bukan karena nyamuk, tapi karena geliat warung-warung UMKM rasa karaoke remang-remang di sepanjang jalur Surabaya-Jember yang ngluyur di desa mereka.
Balai Desa Pecoro hari ini jadi panas—bukan karena AC-nya rusak, tapi karena rapat koordinasi pencegahan dan penanggulangan kerawanan sosial digelar habis-habisan. Yang hadir lengkap: dari Kades Musthofa Shobir, jajaran Polsek, Koramil, Kecamatan Rambipuji, PT KAI, hingga PU Bina Marga. Kalau ini turnamen, sudah masuk babak semifinal.
Kepala Desa Musthofa Shobir berdiri gagah, pidatonya penuh petuah:
“UMKM itu singkatannya bisa jadi Usaha Membingungkan Kemasyarakatan. Kalau warung kopi ternyata warung cari kopi-kopian, ini bukan lagi pemberdayaan ekonomi, tapi pemberdayaan esek-esek!”
Warung-warung yang katanya tempat ngopi, tapi nggak pernah kelihatan ada termos dan gelas, apalagi aroma robusta. Malah yang nongkrong di situ bukan pecinta kopi, tapi pecinta “kode kodean”. Warga yang awalnya senang UMKM berkembang, kini malah trauma lewat depan warung karena takut ditawari ‘paket hemat malam Jumat’.
Serda Bowo Hadiyanto, Bhabinsa Pecoro, sudah satu bulan lalu melapor ke Kades dan Camat. Tapi seperti biasa, laporan rakyat kecil kadang nasibnya kayak proposal RT: ditumpuk di meja, dijadikan alas kopi, lalu hilang ditelan tumpukan surat undangan pelantikan karang taruna.
“Saya sudah laporkan Mas, sudah sebulan, tapi belum ada tindak lanjut. Kalau dibiarkan, nanti yang minum kopi malah makin liar, dan warga makin resah.” ungkapnya ke awak media sambil merapikan topinya.
Rapat makin ramai saat Satpol PP Kecamatan Rambipuji menyatakan siap pasang badan:
“Kami siap, Mas. Tapi ya jangan sampai baru bergerak kalau viral di medsos. Kita harus bergerak cepat meski belum masuk FYP!”
Kades Musthofa langsung mewanti-wanti jajarannya:
“Jangan ada aparat desa yang main mata. Kalau ada yang kasih izin warung tapi ujung-ujungnya buat praktik negatif, siap-siap copot jabatannya, terus pindah profesi jadi penjaga palang pintu rel!”
Langkah konkret pun disepakati: warung-warung mencurigakan akan dipanggil satu-satu. Bukan buat disiram air kopi, tapi disiram surat panggilan resmi. Ketua BPD Desa Pecoro langsung mendukung penuh hasil rapat.
“Lebih baik kita bertindak sekarang daripada nanti Pecoro dikenal bukan karena keripiknya, tapi karena warung ‘kopi syurga’!”

Gareng Petruk berujar:
“UMKM itu ibarat pedang bermata dua: bisa jadi berkah, bisa juga jadi musibah. Kalau topengnya jual kopi, tapi hatinya jual tubuh, itu bukan ekonomi kreatif, tapi akhlak destruktif!”
Mari jaga desa. Jangan sampai kopi jadi kedok, dan UMKM jadi “Usaha Menjual Kemaksiatan”. Kalau warung sudah berubah fungsi, maka desa bukan lagi tempat tinggal, tapi tempat tinggal kenangan moral.
Dan buat warung-warung yang nakal, Gareng Petruk usul: tutup pakai spanduk bertuliskan “Maaf, warung ini ditutup karena terlalu banyak menu rahasia.”
















