Waduh, Tangsel!
Minggu pagi, Ahad 15 Juni 2025, biasanya warga Serpong sibuk jogging, ngopi, atau nge-like status mantan. Tapi kali ini beda. Tandon Ciater mendadak jadi gelanggang gegap gempita: bukan demo, bukan konser K-pop, tapi… Deklarasi dan Pelantikan Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) Kota Tangerang Selatan!
Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul lalu pulang bawa stiker. Ini soal warisan, jurus, dan jati diri. Bertema “Siap Melestarikan, Mengembangkan Budaya Silat Tradisi Leluhur Indonesia”, KPSTI tampaknya ingin bilang, “Hei, silat itu bukan cuma buat film Wiro Sableng, tapi juga buat nyambung urat sejarah kita yang hampir copot!”

Acara dihadiri oleh 8 pendekar dari DPP, tokoh-tokoh yang namanya panjang-panjang kayak gelar sarjana, termasuk Tomy Patria Edwardy, ST., M.Si.—Kabid Perpustakaan yang dulu mantan lurah Cipayung, kini jadi juru bicara budaya. Beliau bilang,
> “Orang yang suka organisasi adalah orang yang suka silaturahmi.”
Wah, kalau begitu, grup WA keluarga besar juga bisa disebut organisasi ya, Pak? 😄

Pak Tomy dengan jujur menyindir:
> “Budaya silat di Tangsel nyaris gak kedengeran, padahal jumlah perguruan silat melebihi organisasi kepemudaan.”
Ini kayak punya banyak warung tapi gak ada yang masak. Iya, punya potensi, tapi tidur semua. Nah, KPSTI hadir buat bangunin!
Dari Nongkrong ke Tanggung Jawab Budaya
Ketua KPSTI Tangsel, Djoko Agus Guntoro alias “Babeh Agus”, ngaku bahwa organisasi ini lahir dari “nongkrong”. Ternyata bukan hanya gosip atau kopi saset yang bisa lahir dari tongkrongan, tapi juga organisasi budaya! Keren!
Babeh Agus juga ngajak anak muda Tangsel buat ikut nguri-uri budaya. Cocok! Soalnya sekarang anak muda lebih hafal nama member boyband Korea ketimbang nama pendekar Betawi.

Subra Wijaya, Penasehat KPSTI, ikut angkat bicara. Katanya:
> “KPSTI harus punya banyak program seni budaya, dan kaderisasi harus jalan lewat pembentukan Korcam.”
Mantap, Pak! Tapi tolong jangan Korcam-nya cuma buat update status aja, ya. Bikin program yang bisa nyambungin jurus silat dengan teknologi, siapa tahu lahir jurus WiFi Maut.
Suasana Sakral dan Sentuhan Seni
Dengan penuh semangat dan aroma minyak kayu putih, seluruh pengurus mengucap deklarasi, disumpah oleh Sekjen M. Boy untuk masa jabatan 2025–2029. Pelantikannya diwakili oleh Nur Ali, mewakili Ketua Umum KH. Mahfudz Abdurrahman, S.Sos.
Dan seperti sambel pecel yang nggak lengkap tanpa kacang, acara ini juga dibumbui penampilan seni: dari tarian Selamat Datang SDN Ciputat 01, atraksi dari Ki Adang dan Rudi Jambrong, sampai tepuk tangan ibu-ibu yang semangat walau belum sarapan.
Sindiran Manis ala Gareng
Tangsel, oh Tangsel… katanya kota cerdas, modern, religius. Tapi kadang terlalu sibuk ngejar modern, sampai lupa sama budaya sendiri.
KPSTI adalah pengingat, bahwa silat bukan cuma soal tendangan dan gebrakan, tapi tentang filosofi hidup, kesabaran, ketekunan, dan warisan leluhur.
Kalau hari ini silat tradisi baru kedengeran lagi setelah sekian lama, jangan sampai besok dia hanya jadi bahan nostalgia TikTok.
Ingat, budaya bukan tontonan musiman. Dia harus jadi napas harian.
Akhir Kata
Salam hormat untuk KPSTI Tangsel. Semoga dari Tandon Ciater ini lahir gerakan besar yang mengalir seperti air, jernih dan kuat.
Karena dalam tiap langkah silat, tersembunyi doa, dalam tiap tangkisan, ada nilai, dan dalam tiap jurus… ada cinta kepada tanah sendiri.
#MajuKPSTI #TangselPunyaJurus















