TANGERANG SELATAN – Hari Ahad yang biasanya diisi tukang galon teriak dan tetangga nyuci karpet, tiba-tiba berubah jadi momen nasionalis-sentimentil.
Pasalnya, di Jalan H. Saran Ciater, Serpong – bukan tempat jual soto, tapi tempat seni – mantan Presiden RI ke-6, Pak SBY, bersama putra tercintanya, AHY yang kini menjabat Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, meresmikan Stand Gallery STASA MasDibyo dengan penuh khidmat tapi tetap modis.
—
Seni Bertemu UMKM: Ketika Kuas dan Ekonomi Pegangan Tangan
Pak SBY dalam pidatonya menyatakan bahwa STASA bukan sekadar galeri lukisan, tapi juga jembatan perasaan antara kreativitas dan ekonomi rakyat kecil.
“Sinergi antara seni dan UMKM ini bisa jadi bongkahan emas di tengah tantangan zaman,” ujar beliau, dengan nada tenang khasnya, sambil sesekali menengok langit—mungkin menunggu inspirasi puisi.
—
AHY: Dari Barak ke Galeri
AHY, yang biasanya ngebahas infrastruktur, kini ikut ngebahas tekstur lukisan.
Beliau menyampaikan bahwa tempat seperti STASA adalah bentuk pembangunan yang tidak hanya mengurus jalan tol, tapi juga jalur ekspresi batin masyarakat.
“Membangun bangsa tak melulu soal semen dan beton, tapi juga tentang ruang untuk hati dan kreativitas,” katanya sambil tersenyum.
Gareng sempat nyeletuk dalam hati,
“Wah, ini kalau kampanye nanti, galeri bisa jadi posko juga…”
—
Dari Inggrid Kansil Sampai Pak Tentara: Acara yang Multigenre
Hadir pula tokoh-tokoh yang bikin undangan jadi semacam festival politik dan seni:
Ada H. Syarief Hasan dan istri artis Inggrid Kansil (yang wajahnya gak berubah dari zaman sinetron tahun 2000), DR. Andi Mallarangeng, hingga Wakil Wali Kota Tangsel dan Kapolres Tangsel yang hadir lengkap dengan senyum waspada.
“Lengkap banget. Tinggal Pak RT bawain tumpeng, udah kayak acara nikahan,” ujar salah satu warga yang sejak pagi standby demi bisa salaman.
—
MasDibyo: Dari Guru ke Pelukis, dari Cat Air ke Catatan Sejarah
MasDibyo, sang seniman asal Jawa Timur, ternyata dulu seorang guru yang memilih pensiun dini demi mengejar warna dan kuas.
Gallery STASA yang kini berdiri megah, adalah hasil perjuangan sejak 2018, bersama pasangan sejatinya – Yudi dan Yanti – yang kini sukses memberdayakan 30 karyawan dan banyak UMKM lokal.
“Kami ingin pelukis tidak hanya dipuji, tapi juga dibeli,” ujar Yanti sambil menyusun katalog.
—
SBY dan Salaman Keramat: Antara Rakyat dan Mantan Presiden
Acara makin meriah ketika warga yang sudah menunggu sejak adzan subuh akhirnya bisa menyalami langsung Pak SBY dan Mas AHY.
Seorang ibu sampai menangis:
“Saya dulu ngikutin lagu beliau waktu masih jadi presiden… sekarang bisa salaman, Masya Allah…”
Gareng terharu, tapi juga mikir,
“Semoga salaman ini bukan cuma selfie, tapi juga membuka tangan-tangan bantuan untuk UMKM yang benar-benar butuh.”
—
Catatan Gareng: Seni Jangan Cuma Jadi Pemanis Brosur
STASA ini keren. Tapi harus terus dikawal supaya bukan sekadar galeri elitis yang cuma bisa dinikmati pejabat dan influencer.
Kalau mau jadi ruang pemberdayaan, harus terbuka untuk anak-anak muda, seniman jalanan, bahkan ibu-ibu PKK yang punya kreativitas tinggi tapi saldo rekening minim.
“Jangan sampai lukisannya dipajang di kafe mewah, tapi pelukisnya masih ngutang kopi sachet.”
—
Penutup: Dari STASA untuk Nusantara
Gallery STASA MasDibyo adalah simbol pertemuan antara idealisme dan realitas.
Semoga bisa jadi oase seni di tengah gersangnya birokrasi, dan jalan terang bagi UMKM yang selama ini hanya dapat tepuk tangan tanpa bantuan nyata.
“Karena bangsa ini bisa maju, kalau seniman gak kelaparan, dan rakyat kecil bisa jualan tanpa digusur.”
Salam kuas dan kopi hitam,
Gareng Petruk, pelukis cita-cita rakyat dengan tinta sindiran dan kuas cinta tanah air.
















