TANGSEL – Wahai para pembaca budiman yang sedang menunggu pengumuman PPDB sambil ngopi dan deg-degan, mari duduk sebentar. Di Tanah Selatan Banten, tepatnya di Tangerang Selatan alias Tangsel, sedang ramai isu yang bikin kening berkerut dan dompet ketar-ketir: praktik calo PPDB dengan harga fantastis, konon mencapai puluhan juta rupiah per kursi!
Betul, Saudara-saudara. Di negeri yang katanya merdeka sejak 1945 ini, anak mau sekolah negeri saja harus lewat makelar. Bukan makelar sawah, bukan makelar mobil, tapi makelar masa depan anak bangsa! Harga masuk sekolah negeri sekarang bisa bersaing dengan DP motor trail. Bedanya, motor bisa dipakai buat ngojek, tapi ijazah hasil caloan belum tentu bisa ngojek kehidupan.
Calo: Profesi Musiman, Untungnya Menyesakkan
Calo PPDB itu seperti jamur di musim hujan dan seperti mantan: muncul saat kita lengah dan kadang menyakitkan. Mereka lihai menyaru: ada yang ngaku “orang dalam”, ada yang ngakunya “bisa bantu lewat jalur belakang”—kayak mau masuk konser K-pop. Bedanya, ini bukan konser. Ini pendidikan, Saudara. Taruhannya masa depan anak-anak.
Gareng bayangin, satu bangku negeri bisa dibanderol Rp20 juta. Lha, kalau 10 orang beli, itu udah setara APBD kelurahan kecil. Tapi di mana negara? Di mana pemerintah daerah? Di mana Dinas Pendidikan? Mungkin masih sibuk ngatur juknis sambil ngopi di ruang ber-AC.
Pendidikan Negeri: Mimpi atau Mimpi Buruk?
Sekolah negeri dulu dikenal sebagai tempat pendidikan murah dan berkualitas. Sekarang, jadi mirip restoran bintang lima: bisa masuk kalau kenal orang dalam atau punya tabungan tak biasa. Inilah realita pahit yang harus ditelan oleh rakyat kecil: mau anak pinter, tapi nggak mampu bayar calo. Mau jujur, tapi takut nggak keterima. Mau ngadu, tapi takut dianggap cari ribut.
Makanya, pesan Akbar dari Banten layak digemakan: perlu dibentuk Satgas Anti-Calo PPDB! Jangan hanya mengandalkan spanduk “PPDB Gratis, Jujur, Transparan” yang digantung di pagar sekolah, tapi kenyataannya di balik pintu belakang ada transaksi gelap yang disahkan dengan kata, “Tenang, saya atur…”
Pesan Gareng buat Orang Tua dan Pejabat
Buat para orang tua: jangan mudah tergoda rayuan calo berjas. Anak bukan barang titipan yang bisa disisipkan di antara tumpukan amplop. Kalau pun harus lewat jalur zonasi, afirmasi, prestasi, atau luar angkasa, pastikan itu jalur resmi.
Buat para pejabat: jangan cuma rapat dan bikin brosur. Turunlah ke lapangan. Kalau perlu, sidak ke sekolah, cek pendaftaran, buka hotline pengaduan. Kalau ada oknum di dalam yang main mata, copot saja bajunya, biar tahu rasanya jadi rakyat jelata!
Akhir Kata: Masa Depan Tak Untuk Diperjualbelikan
Pendidikan adalah hak, bukan barang dagangan. Sekolah bukan pasar malam tempat kursi bisa ditebus pakai sogokan. Jika praktik ini dibiarkan, nanti anak-anak akan tumbuh dengan satu pelajaran hidup: “Kalau mau sukses, beli jalannya.”
Itulah awal dari kehancuran bangsa.
Mari, mulai hari ini, kita angkat suara, jangan diam. Karena diamnya kita adalah panggung bagi calo untuk terus beraksi. Dan kata pepatah lama—yang entah dari mana tapi terdengar bijak—“Calo itu ibarat paku di sendal, kecil tapi bikin sakit tiap langkah.”
Mari kita cabut paku itu. Biar masa depan anak bangsa bisa melangkah tanpa tersandung.
Gareng Petruk
(Yang pernah gagal PPDB karena nggak punya koneksi, tapi akhirnya lulus jadi penulis penuh imajinasi)
















