Rambipuji-Jember, GarengPetruk.com – Dusun Gudang Karang yang biasanya cuma jadi jalur lalu-lalang kereta api, malam Minggu (17/8/2025) berubah jadi panggung gegap gempita. Sekitar 150 warga tumpah ruah di Jalan Pemuda RT 01/02 RW 28, ikut merayakan malam puncak HUT RI ke-80 dengan pentas seni yang dibuka secara resmi lewat pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Rambipuji, Ibu Dwi Diyah Setyorini, S.I.Kom.
Tumpeng terpotong, penonton bersorak, pedagang pun tersenyum lebar—dagangan dari bakso, cilok, sampai pentol ludes tak bersisa. “Alhamdulillah, sebelum acara usai bakso sudah habis semua. Kalau begini tiap malam saya rela pentas seni tiap hari, rombongnya gak kebeli, tapi isi panci ludes, pak!” ujar Sabar, pedagang bakso, sambil nyengir puas.

Selain sajian kuliner, panggung seni juga tak kalah ramai. Elfandi, panitia sekaligus anggota Pasukan 08, menjelaskan acara pentas ini menampilkan tari-tarian dari putra-putri dusun. “Nanti juga ada electone plus penyanyi dari ibukota. Dusun ini bakal bergoyang kayak konser luar negeri, tapi tiketnya gratis, cukup modal sandal jepit,” celetuknya sambil tertawa.
Yang bikin unik, panggung pentas persis di dekat rel kereta api. Jadinya, tiap kali musik mulai nge-beat, kereta lewat menambah efek suara remix alami. “Ibarat orang kasmaran, meski kereta lewat, musik tetap mendayu. Anjing menggonggong, kereta berlalu,” tambah Elfandi sambil gaya ala penyair.
Acara ini juga dijaga ketat oleh Babinsa Anton dan Babinkamtibmas, yang ikut nongkrong bareng panitia dan warga. “Kami aparat selalu siap mengamankan kegiatan. Salut buat RW 28, sudah memberikan contoh baik dengan izin resmi dan koordinasi. Pokoknya dusun ini juara kerukunan,” ujar Anton dengan senyum bangga.
Biarpun ada warga yang bercanda soal sering dimintai sumbangan tiap Agustusan, toh semuanya tetap semangat. “Anggap saja sodaqoh, tapi kan dapat pentol juga,” timpal Sabar, bikin penonton ngakak.

Akhirnya, malam itu bukan hanya tumpeng yang terpotong, tapi juga jarak antara warga, aparat, dan pemerintah yang makin terhubung dalam kerukunan. Gudang Karang pun membuktikan, meski dekat rel kereta api, semangat gotong royong warga tak pernah tergilas roda besi.
















