Batu — Turnamen Badminton Wali Kota Batu Open 2025 yang semula jadi ajang “adu smash dan semangat”, belakangan malah kena servis isu soal hadiah yang katanya tak sesuai ekspektasi. Tapi tenang, panitia gak tinggal diam. M. Nur Adhim, sang penanggung jawab acara, langsung turun lapangan (bukan buat main ganda campuran, tapi buat klarifikasi).
Dengan gaya tenang khas mantan camat, Nur Adhim bilang, “Kami minta maaf. Ada miskomunikasi antara panitia dan perwakilan atlet. Sebagian hadiah sudah dibayar, sebagian lagi sedang kami bereskan. Pokoknya hak pemenang tetap kami penuhi.”
Kalimatnya sopan, tapi nadanya tegas — kayak wasit yang lagi nyetop pemain ribut.
Menurut Nur Adhim, sebenarnya semua udah dijelasin sejak Technical Meeting. Uang hadiah, besaran, hingga cara pembagian, semua dibahas transparan. Tapi, ya namanya juga manusia, kadang informasi nyangkut di shuttlecock—mental ke mana-mana.
“Beberapa atlet sempat menolak hadiah, tapi mayoritas tetap menerima karena itu memang hak mereka,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa panitia sudah beritikad baik menyelesaikan semuanya.
Soal pamflet yang viral berisi total hadiah Rp 63 juta, Nur Adhim gak ngeles.
“Iya, memang ada pamflet itu. Tapi kami sudah menutup selisih hadiahnya. Semua kekurangan sudah kami lunasi. Jadi, kalau kemarin ada yang bilang hadiahnya gak sesuai, sekarang bisa dicek lagi: udah rapi, tinggal dibingkai,” katanya sambil tersenyum.
Di balik kisah hadiah yang sempat “terbawa angin servis”, turnamen ini ternyata berjalan sukses luar biasa. Lebih dari 600 peserta dari berbagai usia tumpah ruah di GOR Ganesha, Kota Batu, sejak 6 November 2025. Suasananya meriah, keringat bercampur sorak sorai, dan semangatnya bikin bulu tangkis terasa kayak festival rakyat.
Acara ini bagian dari Hari Jadi Kota Batu ke-24, dibuka langsung oleh Wali Kota Nurochman, dan ditutup dengan penyerahan hadiah oleh Wakil Wali Kota Heli Suyanto.
Kalau dilihat dari antusiasme penonton dan jumlah peserta, turnamen ini udah bisa dibilang sukses servis ke hati masyarakat.
Nur Adhim berharap ajang ini bisa jadi wadah pembibitan atlet muda berbakat dari Batu dan sekitarnya.
“Dari turnamen semacam ini, kita bisa lihat siapa yang kelak bakal jadi andalan nasional. Siapa tahu, calon juara dunia itu dulu sempat jatuh bangun di GOR Ganesha,” ujarnya dengan nada optimis.
Gareng nyeletuk:
“Yowes, hadiah udah beres, tinggal latihan biar bisa ngalahin lawan tanpa ngadu argumen.”
Petruk menimpali:
“Betul, Gareng. Di lapangan, yang penting bukan cuma kuat servisnya, tapi juga jujur mainnya.”
Dari Batu kita belajar: dalam olahraga, seperti juga hidup — kadang bola nyangkut di net, tapi yang penting, tetap main dengan sportif dan niat baik.
🎾 Lucunya rakyat, seriusnya kehidupan.
© GarengPetruk.com
















