Petruk Ngomong: “Sekolah Rakyat? Yo wis wayahe! Tapi ojo mung baliho karo sambutan, isine kudu ilmu lan rasa kemanusiaan!”
Saudaraku sak Tanah Air,
Kalau kata tetangga sebelah, “Pendidikan itu kunci masa depan.” Tapi kalau kuncinya ilang, lha yo masa depane kekunci! Nah, makanya muncul gagasan mulia: Sekolah Rakyat! Sebuah oase di tengah gurun birokrasi dan janji-janji kampanye yang sering lebih panjang dari antrean BLT.
Sekolah Rakyat itu bukan sekadar sekolah dengan bangku kayu dan kapur putih. Tapi simbol kehadiran negara, bukan negara yang pura-pura hadir pas pemilu tok. Ini soal hak, bukan soal hibah. Karena pendidikan adalah warisan, bukan ampas proyek!
Presiden Prabowo, yang dijuluki Pemegang Wahyu Mahkutoromo, mewarisi ajaran Basudewa Krisna, bukan Krisna yang jual alat dapur di TV, tapi gambaran Tuhan yang ngemong, ngemong rakyat, ngemong masa depan. Dan di tangan Agus Jabo (AJ, bukan AJ karaoke), Sekolah Rakyat dijalankan dengan semangat, bukan dengan seremonial.
Pendidikan Itu Bukan Program, Tapi Perjuangan!
Lha coba delok Singapura! Duit tambang ora duwe, hutan ora ono, tapi cendekiawane meluber. Kenapa? Karena negara serius membekali rakyat dengan akal, bukan hanya sembako. Sekolah di sana bukan hanya alat seleksi, tapi alat emansipasi.
Indonesia? Sumber daya alam kaya, tapi kalau sumber daya otaknya loyo, yo mung dadi ladang eksploitasi investor. Masa depan bukan dibangun dari menara gading, tapi dari sekolah yang merakyat.
Gareng: “Sekolah Rakyat kuwi kudu iso ngajar anak mikir, ora mung ngapal Pancasila tapi ora ngerti maknane.”
Sekolah Rakyat mestinya jadi benteng terakhir agar anak bangsa tidak terseret jadi konten kreator sesat, buzzer panik, atau calon koruptor. Sekolah Rakyat harus mengajarkan:
Berpikir kritis, bukan hanya manut KTP.
Mencintai negeri, bukan mencaci di medsos.
Bersolidaritas, bukan berebut bansos.
Petruk Ngomel Lagi: “Jangan sampai Sekolah Rakyat cuma jadi proyek tahunan, ganti menteri ganti kurikulum, murid malah bingung ujungnya.”
Kita butuh pendidikan yang sustainable, bukan sekadar seremonial. Pendidikan yang diajarkan dengan hati, bukan hanya PPT dan LKPJ. Pendidikan yang membawa rakyat keluar dari kemiskinan, bukan dari ruang kelas ke bilik coblosan lalu dilupakan.
Akhir kata…
Sekolah Rakyat bukan soal gaya bicara menteri, tapi soal bagaimana rakyat kecil bisa naik panggung dunia. Jangan biarkan sekolah jadi eksklusif milik yang mampu. Karena kalau rakyat tidak bisa sekolah, jangan heran kalau bangsa ini terus jadi langganan prank global.
Gareng dan Petruk pamit, sambil bawa papan tulis dan mimpi besar:
“Sekolah Rakyat untuk semua, bukan cuma untuk mereka yang punya suara!”
















