Jakarta – Gareng Petruk News
Di sebuah forum intelijen yang katanya tertutup, tapi malah bocor di grup WhatsApp keluarga, Ketua DPP Pasukan 08 sekaligus Ketua Satgas Cyber Crime RI-1, Arfian D Septiandri, S.Kom, MBA, CCA, CCSA, CIISA, C.ED, memperkenalkan sebuah konsep baru yang bikin rakyat jelata menganga: Teori Kriminologi Cybernetic.

Teori ini, kata Arfian, adalah upaya memahami kejahatan digital bukan cuma dari sisi hukum dan teknologi, tapi juga dari intrik intelijen, psikologi, hingga drama manusia di balik layar monitor.
I. Latar Belakang: Dari Tukang Warnet ke Mafia Siber
Arfian membuka dengan kisah sederhana:
“Dulu kita lihat kriminal ya maling ayam, jambret HP, atau copet di angkot. Sekarang malingnya pindah, dari kandang ayam ke kandang server. Dari copet dompet ke copet OTP.”
Fenomena inilah yang melahirkan teori Cybernetic. Kalau dulu kriminologi pakai kacamata hukum, sosiologi, dan psikologi, kini ditambah lensa baru: sistem jaringan, algoritma, dan pola interaksi manusia dengan mesin.
II. Definisi Kriminologi Cybernetic
Teori ini dijabarkan Arfian dengan bahasa sederhana:
1. Kriminal sebagai Jaringan, bukan Individu.
Hacker bukan cuma orang sendirian di depan laptop. Mereka terhubung dengan jaringan global, kadang pakai server Rusia, VPN Singapura, tapi ujung-ujungnya belanja di Indomaret depan rumah.
2. Kejahatan sebagai Simulasi.
Banyak kasus cyber crime terjadi bukan karena butuh uang, tapi karena pelakunya ingin main game. Mereka treat hacking seperti quest RPG, di mana korbannya ya… kita semua.
3. Sistem Balas Dendam Digital.
Korban yang marah kadang malah bikin kejahatan baru. Misalnya, akun di-hack → bikin akun palsu → menyebar fitnah balik. Jadinya lingkaran setan siber.
4. Intrik Intelijen.
Tidak semua cyber crime murni kriminal. Ada yang dimainkan pihak ketiga, ada yang dipelihara, bahkan ada yang dipakai sebagai senjata politik.
III. Struktur Teori: Lapisan-Lapisan Kriminologi Cybernetic
Arfian menjelaskan dengan analogi tumpeng (karena kalau pakai teori spiral nested system, rakyat jelata malah pusing).
1. Lapisan Bawah (Teknis): password, kode OTP, malware, phishing.
2. Lapisan Tengah (Sosial): grup WhatsApp keluarga, arisan online, marketplace, hingga gosip artis.
3. Lapisan Atas (Intelijen): operasi penyusupan, manipulasi opini, hingga drama politik.
4. Puncak Tumpeng: Dalang yang tak terlihat, entah bos VPN gratisan, atau justru mantan pacar yang dendam.
IV. Intrik dan Drama: Plot Twist Dunia Maya
Hasil investigasi Satgas Cyber Crime menemukan kisah-kisah absurd:
Seorang hacker asal kampung ternyata mengatur jaringan scammer internasional sambil jaga warung pulsa.
Ada sindikat yang menipu dengan cara pura-pura jadi customer service palsu, padahal lokasinya di warnet.
Bahkan pernah ada kasus hacker yang berhasil bobol akun e-wallet, tapi uangnya dipakai… donasi masjid.
Plot twist-nya? Setelah ditangkap, si hacker bilang:
“Kalau saya maling di dunia nyata, dapatnya cuma ayam. Kalau maling di dunia maya, bisa dapat sedekah jariyah.”
V. Statement Resmi Arfian
“Cyber crime itu bukan cuma urusan IT. Ini soal perilaku manusia yang ketemu mesin. Teori Kriminologi Cybernetic adalah cara kita melihat bahwa kejahatan digital punya lapisan intelijen, punya drama, dan kadang absurd. Jadi jangan heran kalau yang kelihatan kecil bisa jadi punya aktor besar di belakangnya. Ingat, di dunia siber, tak ada yang benar-benar gratis… kecuali WiFi tetangga.”
VI. Pesan untuk Rakyat Jelata
Arfian menutup dengan wejangan khas intelijen jenaka:
1. Jangan gampang percaya link “klik di sini untuk jadi kaya”.
2. Kalau ada yang ngajak investasi bareng, biasanya dia duluan yang kaya, sampeyan duluan yang sengsara.
3. Password jangan pakai nama mantan, apalagi tanggal jadian—itu gampang ditebak.
4. Ingat: di dunia nyata maling ketemu satpam, di dunia maya maling ketemu intelijen.
VII. Epilog ala Intelijen
Teori Kriminologi Cybernetic akhirnya bukan hanya ilmu, tapi juga alat baca dunia yang makin absurd. Rakyat pun pulang dari forum ini dengan dua perasaan:
Takut dompet digital dibobol.
Tapi juga geleng-geleng karena ternyata drama hacker lebih lucu daripada sinetron.
Dan seperti kata Arfian sambil menutup laptop:
“Di dunia cyber, musuhmu bisa jadi cuma satu klik… atau satu tetangga.”
















