Jakarta Timur, Condet Tercinta —
Setelah webinar nasional yang serius dan penuh hukum-hukuman (bukan cinta ditolak tapi undang-undang dipelintir), mahasiswa Fakultas Hukum Universitas MPU Tantular Jakarta Timur hari ini menyambangi Yayasan Rawinala di kawasan Condet. Ealah, dari baju formal langsung banting setir jadi sosial aktif! Kreatif? Jelas. Sosial? Banget. Lucu? Ya tergantung, kalau kamu ngerti jokes ala Gareng Petruk.

Didampingi oleh Dosen Pembimbing nan super sabar, Ibu Serepina Tiur Maida—yang kalau diibaratkan supir bajaj, selalu tahu cara belok yang halus tapi sampai tujuan—rombongan mahasiswa ini datang bukan untuk nyidang, tapi untuk menyentuh… hati.
Kegiatan dengan Hati yang Lebih Terang dari Mata
Yayasan Rawinala bukan tempat biasa. Di sinilah para tunanetra ganda menyalakan semangat hidup yang kadang bahkan kita yang katanya “lengkap” ini suka lupa nyalainnya. Mereka mungkin tak melihat, tapi hati mereka lebih jernih dari CCTV kantor kelurahan.
Acara berjalan khidmat dan gembira. Nggak ada yang lempar pasal, nggak ada yang bacain dakwaan, tapi semua larut dalam hangatnya kebersamaan. Dari games sederhana, penampilan musik, sampai berbagi cerita—semuanya mengalir seperti skripsi yang akhirnya disetujui.

Hukum Bertemu Nurani
Sebagai mahasiswa hukum, mereka belajar tentang keadilan. Tapi hari ini, mereka belajar dari Rawinala bahwa keadilan bukan cuma soal pasal dan ayat, tapi juga soal rasa dan empati. Kalau hukum bicara lewat buku, Rawinala bicara lewat hati. Dan tak perlu mata untuk melihat mana yang benar, cukup hati yang terbuka dan telinga yang mau mendengar.
Ada mahasiswa yang bilang, “Saya jadi malu, selama ini ngeluh tugas banyak, tapi mereka di sini tiap hari berjuang bahkan tanpa bisa melihat layar laptop.”
Wah, Petruk pun jadi pengin peluk mereka satu-satu, tapi takut dikira modus.
Petruk Tutup Berita:
Hari ini, bukan hanya anak Rawinala yang bahagia. Mahasiswa hukum pun pulang dengan bawa sesuatu yang tak bisa dibeli: pelajaran hidup. Bahwa hukum sejatinya bukan cuma untuk dihafal, tapi untuk dijalankan dengan hati. Dan kadang, justru dari mereka yang hidup dalam keterbatasan, kita belajar arti kelimpahan yang sejati.
Jadi ingat kata Mbah Petruk dulu waktu ngebenerin radio:
“Yang penting bukan seberapa nyaring suara, tapi seberapa jernih pesan yang disampaikan.”
Salam cinta dari Petruk, bukan modus.
















