Cimahi, garengpetruk.com – Ada yang bilang, politik itu seni kemungkinan. Tapi kalau liat gaya Kang Dedi Mulyadi (KDM), politik malah jadi seni “ngoprek langsung di lapangan”. Beliau ini kalau diibaratkan gadget, bukan tipe-tipe “update OS tiap bulan” tapi justru langsung factory reset sistem lama. Gaya kerja beliau ini bikin para elite keringetan sambil buka pasal, karena yang dibongkar bukan cuma beton sungai—tapi juga mental betonan politik!
KDM ini bukan Gubernur biasa. Beliau itu semacam kombinasi antara petani, vlogger, dan Hansip digital. Sekali muncul di medsos, bisa-bisa langsung ngusir pedagang liar sambil ngasih modal dagang. Tangannya kerja, kakinya jalan, hatinya nyala, dan mulutnya—yah, kadang bikin fraksi DPRD pada kelojotan.
Ngomong Apa Adanya, Bikin Yang Terbiasa Main Drama Jadi Gusar
Waktu beliau bilang “saya lebih baik bongkar sendiri bantaran sungai, karena kalau nunggu DPRD, kita malah diajak rapat gak selesai-selesai”—langsung deh, yang duduk di kursi empuk DPRD mendadak kayak kesengat listrik PLN. Fraksi PDIP walk out, katanya KDM merendahkan partai. Lah, siapa suruh kursi partai dipakai buat rebahan kebijakan?
Ini bukan soal KDM anti-koordinasi, tapi koordinasi yang kebanyakan wacana itu kayak mie instan yang direndem air dingin: kelihatan banyak, tapi gak bisa dimakan. KDM ini pemimpin yang kalau ngeliat sungai mampet, gak manggil tim rapat—tapi langsung nyemplung sambil live Instagram!
Teori Berat? Santuy! Ini Mah Teori “Sontoloyo Beneran”
Kata ilmuwan seperti Heifetz dan Ostrom, gaya KDM itu masuk kategori adaptive leadership dan governance by action. Tapi kalau di mata Gareng, ini namanya mimpin pake otak waras dan hati lapang. Bukan pemimpin yang duduk di podium sambil ngitung tepuk tangan, tapi yang berdiri di pasar becek sambil nyambung gas elpiji rakyat kecil.
Sistem yang ada selama ini kayak tupperware bocor: kelihatan rapi, padahal isinya netes terus. Masuk KDM, langsung ditambal semua, bahkan kalau perlu diganti semuanya dengan ember baru yang bisa nampung trust masyarakat.
Walk Out? Walk In ke Rakyat Aja, Kang!
Ketika DPRD walk out, rakyat malah walk in ke kolom komentar beliau. Dukungan mengalir, bukan karena pencitraan, tapi karena beliau bisa bedain mana kamera buat gaya, mana kamera buat bukti. Yang duluan viral bukan sensasi, tapi solusi. Dan yang paling nyentuh? Uang buat program dari dompet pribadi. Sementara yang lain sibuk nyusun proposal bansos, KDM udah nyusun ulang mindset sosial.
Dibilang Gubernur Konten? Ya Emang, Tapi Kontennya Solutif!
Ada Gubernur lain nyinyir: “Dia mah cuma gubernur konten!” Tapi ya… emang kontennya gimana, Pak? Konten dorong gerobak, konten bersihin pasar, konten benerin jalan rusak—bukan konten potong pita sambil pamer dasi merek luar negeri. Lagian, di zaman ini, yang gak bisa tampil di layar HP rakyat, siap-siap jadi bahan gosip, bukan bahan harapan.
KDM ngerti betul: konten bukan sekadar pencitraan, tapi alat untuk menciptakan transparansi. Itu tuh, kata yang bikin sebagian elite alergi karena bisa bikin jejak digital mereka ketahuan ngapain aja—atau gak ngapain-ngapain.
Dana Hibah Dipretelin, Anggaran Komunikasi Disiletin
Dana hibah yang biasanya ngalir kayak air PAM ke yayasan-yayasan misterius, dibongkar KDM. Bukan pake wacana, tapi pake data. Anggaran komunikasi yang awalnya 50 miliar dikepret jadi 3 miliar—ini bukan ngirit, ini namanya ngakalin akal-akalan. Dan semua ini terjadi tanpa kucing-kucingan, karena tiap langkah selalu disiarin. Transparansi level dewa.
Dedi Mulyadi, Bukan Sekadar Gubernur, Tapi Gejala Perubahan
Apa yang dilakukan KDM itu bukan sekadar gaya baru, tapi gejala demokrasi yang makin dewasa. Ia bukan melawan sistem, tapi ngingetin bahwa sistem itu harus relevan sama rakyat. Dalam era digital, kepercayaan dibangun bukan dari protokol, tapi dari konsistensi.
Di tengah dunia politik yang sibuk debat sambil nunggu nasi box, hadir sosok KDM yang sibuk kerja sambil bagi nasi bungkus. Ini bukan soal populisme, ini soal pembuktian. Bukan soal pencitraan, tapi soal pencerdasan.
Penutup dari Gareng:
Di tengah politik yang penuh formalitas, hadir Dedi Mulyadi: gubernur dengan mental petani tapi visi negarawan. Kalau politikus lain sibuk merawat kursi, dia sibuk merawat nurani. Dan kalau elite politik bilang “ini melanggar konstitusi”, mungkin konstitusi-nya memang udah kaku dan butuh disegarkan pakai niat baik dan kerja nyata.
Maka jika hari ini kita membaca KDM, bacalah bukan sebagai narasi seorang pejabat. Bacalah sebagai semangat zaman yang capek dibohongi, dan sekarang minta bukti, bukan janji.
Gareng,
Cimahi, 18 Mei 2025
Penulis adalah mantan Sekertaris DPD Gerindra Jawa Barat.
















