Waduh, kabar bahagia datang dari langit ke tujuh dan nyangkut di tanah Nusantara. Di tengah badai PHK yang kayaknya lagi disponsori oleh “Ekonomi Lesu Nasional”, tiba-tiba Pak Luhut, sang Romo Ekonomi, muncul bagaikan dukun kondang, membawa ramalan menggembirakan: “Tenang wae rek, 67.000 lowongan kerja akan muncul menjelang akhir tahun!” Wah, cocoklogi feng shui ala investor Tiongkok mulai bekerja!
Lho, Friday the 13th kok malah bawa kabar baik?
Biasanya kan kalau udah hari Jumat tanggal 13, orang-orang barat pada deg-degan. Di sana, Jumat keramat ini bawa nuansa serem, mulai dari nasib buruk sampe ketiban tangga pas mau cari rezeki. Tapi di Indonesia, Jumat 13 kali ini malah jadi hari pembuka “karpet merah” buat tenaga kerja baru—katanya sih!
Tapi sebelum kita ikut tepuk tangan, yuk, kita ngintip sedikit ke dapur data.
—
PHK: Pesta Hura-hura Kebijakan?
Dari bulan Januari sampai Maret 2025, 73.992 orang udah nyungsep ke lubang PHK. Itu belum termasuk 154.010 orang yang tahun 2024 kemarin udah klaim JHT (Jaminan Hari Tumben kerja). Tambah lagi 40.683 orang dari Januari sampai Maret 2025. Kayak lomba lari estafet, baton PHK ini terus berpindah dari satu bulan ke bulan lain. Nggak ada yang nyetop.
Tapi… eh… tunggu dulu. Kata data Kementerian Tenaga Kerja, korban PHK cuma 26.455. Lah, ini kayak dua tim debat beda referensi. Yang satu pakai kalkulator, yang satu pakai cenayang.
—
Romo Luhut: Antara Harapan, Feng Shui, dan Mistis Ekonomi
Tapi jangan khawatir! Kata Romo Luhut, akan ada 67.000 pekerjaan baru yang nongol menjelang akhir tahun ini. Kok bisa? Soalnya investor dari Tiongkok katanya lagi rajin-rajinnya masuk, dan mereka bangun pabrik di kota kecil. Kenapa kota kecil? Karena cocok feng shui-nya. Astaga naga… ini ekonomi atau ilmu titen?
Mungkin sebentar lagi Kemenaker akan ganti nama jadi Kementerian Ilmu Perbintangan dan Penempatan Tenaga Kerja Nasional.
Jadi jangan cari kerja ke HRD, cari ke tukang ramal tangan aja!
—
Senyum Prabowo: Antara Serius dan Simbolik
Pak Prabowo, mungkin sekarang lagi nyengir di istana. Tapi kita nggak tahu, itu senyum bahagia atau senyum sambil ngitung:
“Kira-kira 67.000 lapangan kerja ini cukup nggak nutup 200 ribuan korban PHK ya?”
Karena kalau hitung-hitungan pakai kalkulator normal, 67 ribu itu belum cukup buat nutup luka 200 ribu. Kecuali kalau kita pakai kalkulator Feng Shui—di mana angka 8 itu hoki dan angka 4 itu mati.
—
Selamat Datang di Republik Ramalan
Indonesia hari ini kayak orang lagi buka kartu tarot: satu kartu “PHK”, satu kartu “Investasi Cina”, satu kartu “Friday the 13th”, dan satu kartu “Doa”. Kita hidup di zaman di mana data dan dukun berdampingan, di mana ekonomi bisa dibaca lewat feng shui, bukan melalui kebijakan industrialisasi nasional.
Cuma, sebagai rakyat, kita harus tetap optimis. Namanya juga hidup di negeri penuh kejutan. Hari ini PHK, besok buka lowongan. Hari ini susah makan, besok nasi kotak dari kampanye. Hari ini kita resah, besok mungkin jadi relawan.
—
Gareng Tutup Jendela
Begini, Nderekmas, Indonesia tidak bisa selamanya berdiri di atas feng shui dan keberuntungan investor asing. Kalau mau berdikari, ya mbok yo dibangun industrinya, diperkuat UMKM-nya, dikuatkan pertaniannya. Jangan cuma ngandelin ramalan dan lapangan kerja outsourcing.
Biar kita nggak terus-terusan jadi tukang nunggu kabar baik dari luar, padahal negeri ini sudah lama punya tanah subur, anak muda kreatif, dan semangat gotong royong yang luar biasa.
Kalau hanya jadi buruh di negeri sendiri, itu bukan berdikari. Itu berdiri… di atas janji.
—
Salam dari Gareng Petruk, yang belum dapat kerja tapi masih bisa ketawa.
















