SUMENEP – Hari Bhayangkara ke-79 bukan cuma soal apel seremonial, gebyar baris-berbaris, dan pasang baliho ukuran stadion. Kali ini, ada aroma berbeda. Bukan aroma tembakan gas air mata, tapi bau minyak kayu putih di acara Bakti Kesehatan dan Bantuan Sosial.
Tak ayal, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumenep pun angkat topi—meski mereka pakai peci—dan mengacungkan dua jempol (plus doa panjang) buat Polres Sumenep Polda Jatim.
Polisi, Sembako, dan Sentuhan Kemanusiaan
Ketua FKUB Sumenep, KH. Achmad Qusyairi Zaini, S.S., bukan hanya kasih ucapan selamat, tapi juga menaruh harapan bahwa Polri nggak cuma jago jagain konser, demo, atau ngatur jalan macet pas hajatan. Tapi juga bisa turun tangan bantu masyarakat, bahkan sebelum rakyat minta tolong.
“Bantuan sosial dan bakti kesehatan ini contoh nyata bahwa Polri peduli kesejahteraan dan kesehatan masyarakat,” ujar beliau, Minggu (22/6), sambil menyeka keringat pakai sapu tangan batik.
Bukan Cuma Lintas Agama, Tapi Lintas Kemanusiaan
FKUB bukan lembaga biasa. Mereka ibarat penjaga rem hubungan antarumat. Kalau agama-agama diibaratkan sepeda motor beda merek, FKUB itu montirnya—biar gak tabrakan di perempatan sosial.
Makanya ketika lihat polisi berbagi sembako, bukan bagi-bagi tilang, para tokoh lintas agama langsung manggut-manggut. Ini baru namanya Polisi Humanis. Bukan “Human is dead,” tapi “Humanis hidup!”
Bhayangkara: Bukan Hanya Seragam, Tapi Ketulusan
KH Qusyairi dengan santun ala ulama Madura bilang, “Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Semoga Polri makin profesional, dicintai rakyat, dan tetap jadi garda terdepan kedamaian bangsa.”
Kalau Gareng boleh nambahin: semoga garda depan itu bukan cuma nongol pas viral, tapi juga saat rakyat kecil nyari keadilan yang sering ketinggalan bus.
Sindiran Manis Ala Gareng dan Petruk
Gareng: “Kalau Polri terus begini, rakyat bisa mulai percaya lagi. Tapi jangan pas ulang tahun doang ya, Mas Polisi. Masa rakyat harus nunggu tahun depan baru dapet perhatian?”
Petruk: “Bakti sosial itu penting, tapi lebih penting lagi kalau hukum juga ikut ‘sosial’ – jangan cuma turun ke yang kecil, tapi juga menyapa yang besar.”
Polri dan FKUB: Semoga Bukan Sekadar Foto Bareng
Kata Ketua FKUB, sinergi dengan Polri harus lanjut. Karena di tengah dunia yang makin gampang tersulut—dikit-dikit baper, dikit-dikit hoaks—yang dibutuhkan bukan polisi yang bengis, tapi polisi yang bisa ngelus dada rakyat.
GarengPetruk.com yakin: kalau semua pihak kompak—polisi, tokoh agama, masyarakat—Indonesia gak perlu takut ketinggalan zaman. Cukup tinggalkan ego sektoral, dan kita bisa jalan bareng menuju keadilan sosial tanpa perlu sirine atau pengawalan.
Selamat Hari Bhayangkara ke-79!
Teruslah jadi polisi yang bukan cuma siap tangkap penjahat, tapi juga siap peluk rakyat.
Kalau bisa bermanfaat untuk umat, itu baru mantap.
Kalau cuma bikin takut, mending minggir aja, Mas. 😄
(Salam rukun dan ngopi bareng dari Gareng-Petruk dan segenap rakyat yang sering lupa bayar pajak motor tapi selalu ingat harga beras.)
















