MOSKOW (eh, St. Petersburg!) – Presiden Prabowo Subianto, dengan wajah penuh semangat dan suara khas yang menggema, tampil di forum internasional The 28th St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025. Bukan buat tebar pesona, tapi ngasih kuliah ekonomi sambil ngode halus ke dunia: Indonesia gak mau ikut-ikutan ideologi ekonomi yang gak cocok di tanah sendiri.
“Saya pilih jalan tengah,” kata Pak Prabowo.
“Sosialisme murni? Itu utopia. Kapitalisme murni? Ya makin banyak yang makan sarden tiap hari, yang atas makan sushi tiap menit.”
Ekonomi: Antara Piring Nasi Rakyat dan Piring Steak Konglomerat
Pak Prabowo jujur—dan jujurnya itu kayak nyubit. Sosialisme murni, katanya, bikin orang jadi males ngupayak. Mikirnya, semua disama-ratain kok. Sedangkan kapitalisme murni? Wah, itu mah kayak nonton sinetron: yang kaya makin kaya, yang miskin gak dikasih dialog.
Makanya beliau gak mau milih salah satu, tapi malah ngawin campur dua sistem. Bukan karena galau, tapi karena sadar, rakyat butuh sistem ekonomi yang bisa ngasih “tempe buat semua” tanpa bikin si pembuat tahu bangkrut duluan.
Kolusi & Elite Politik: Drama Lama Rasa Baru
Pak Presiden juga gak lupa ngingetin soal duet maut: “modal gede dan kekuasaan”. Ibarat sinetron, ini pasangan toxic yang sering banget ngerusak ekonomi.
“Kolusi mereka gak bantu rakyat, malah bikin kelas menengah makin susah cari posisi,” ujar beliau, dengan nada seperti Pak RT yang habis lihat anggaran musrenbang dipotong buat beli meja marmer.
Filosofi Ekonomi ala Nusantara, Bukan Copy-Paste Eropa
Pak Prabowo nyindir gaya “nyontek kebablasan” dari negara-negara maju. Ya, katanya sih boleh belajar dari luar, tapi jangan lupa: Indonesia itu bukan Norwegia. Kita punya “nasi padang dan nyicil motor”, bukan “keju biru dan kereta tepat waktu”.
“35 persen pertumbuhan ekonomi, tapi kekayaan masih muter di lingkaran elite. Mana efek tetesan ke bawahnya? Bocor sebelum nyampe ember rakyat.” – kritik Pak Prabowo, penuh makna.
Gareng & Petruk Mencatat, Masyarakat Menanti
Gareng: “Kalau ini jalan tengah, berarti kita gak ke kiri atau ke kanan. Tapi hati-hati, Pak. Tengah-tengah itu kadang cuma jadi tempat parkir mobil pejabat.”
Petruk: “Bener, Gar. Jangan sampai ekonomi kita jadi warung kopi elite: yang diskusi panjang lebar, tapi rakyat cuma jadi penonton sambil nyeduh air galon.”
Cita-Cita Besar, Eksekusi Jangan Kecil
Pak Prabowo ingin bikin negara ini adil, bebas korupsi, dan penuh pemerataan. Itu mimpi indah. Tapi jangan sampai jadi “seperti sinetron sore: indah di kata, dramatis di kenyataan.”
Wong cilik nunggu, jalan tengah ini bakal dikawal polisi lalu lintas ekonomi, atau malah jadi jalan tikus para oligarki?
GarengPetruk.com kasih jempol buat niat besar Presiden. Tapi juga ngingetin:
Rakyat gak cuma butuh pidato yang “tepat sasaran”, tapi juga harga cabai yang “tepat di kantong”.
Ekonomi gak cuma soal grafik naik, tapi soal apakah emak-emak bisa masak ayam tanpa mikir lima kali soal LPG.
Dan apakah petani bisa panen padi tanpa panen utang.
Semangat Jalan Tengah, Pak!
Tapi jangan lupa: rakyat itu bukan penonton di tribun, mereka itu pemain utama.
Karena di negeri ini, keadilan bukan teori—tapi lauk harian yang harus tersedia.
(Salam Gareng-Petruk: Dua tokoh yang juga pernah cari jalan tengah, tapi akhirnya mutusin jualan wedang ronde biar semua orang bisa hangat bareng) 🍵🇮🇩
















