Di Antara Speaker dan Suara Syahdu Perempuan Restoran Cepat Saji
Suatu sore yang mendung, perutku keroncongan seperti rakyat yang menanti subsidi. Mobilku mengular di antrean drive thru restoran ayam cepat saji yang logonya jenggotan, tapi harga menyesakkan.
“Selamat sore, selamat datang… Mau pesan apa?”
Suara lembut menyapa dari speaker. Lembutnya kayak janji kampanye waktu mau nyalon.
Aku jawab pelan, “Satu paket ayam, nasi, minum. Yang komplit ya, Mbak.”
Dan lalu… pertanyaan itu muncul.
Pertanyaan yang menggetarkan iman, mengguncang batin, dan membuat dada ini sesak bukan karena kolesterol:
“Mau dada… atau paha, Kak?”
Astaghfirullah.
Hening sejenak. Angin seolah berhenti berhembus.
Otak ini langsung ngelantur. Lho, maksudnya siapa? Maksudnya ayam kan? AYAM kan? Kan???
Aku tengok kaca spion, wajahku memerah, bukan karena malu, tapi karena lapar yang ditingkahi oleh imajinasi nakal dan kenangan romantis yang tak layak ditayangkan di siang bolong.
Antara Ayam, Janji, dan Demokrasi yang Garing
Dan akhirnya aku sadar—semua ini hanyalah tentang ayam goreng.
Ya, ayam goreng, dengan dada dan paha yang jadi pilihan.
Tapi… ah, bukankah bangsa ini juga seperti restoran cepat saji?
Kita ini rakyat, cuma dapat crispy-nya. Kulit garing yang renyah dan bikin kecanduan,
padahal isinya nihil, dagingnya entah ke mana.
Dada dan paha? Sudah lama diangkut ke meja para komisaris.
Direksi BUMN, pejabat tinggi, elit politik — mereka semua duduk di VIP Room,
menikmati sajian full daging dengan minumannya disubsidi.
Sementara kita? Duduk di kursi plastik, nunggu promo potongan 10% dari aplikasi.
“Negara hadir,” katanya.
Hadir iya, tapi seringkali cuma jadi logo di kotak nasi bungkus bantuan.
Ayam Goreng: Renungan di Antara Nasi dan Saus
Lalu aku bertanya dalam hati,
“Apakah benar aku lapar ayam? Ataukah aku lapar keadilan?”
Apakah kita ini makhluk pencari daging, atau pencari makna?
Karena hidup ini terlalu mahal untuk hanya sekadar kenyang,
tapi terlalu murah untuk dijual ke mereka yang hanya bisa makan di atas penderitaan kita.
Lalu aku menatap kotak makananku…
Ternyata aku kebagian sayap.
Ya Tuhan. Bahkan dalam hidup pun, kita sering diberi bagian yang katanya bisa terbang,
tapi tak pernah sampai ke langit.
Karena sayap itu cuma kenangan,
dan langit… sudah dikavling oleh mereka yang punya akses khusus.
Pesan Moral Ala Gareng-Petruk:
Di negara drive-thru ini,
yang antre panjang adalah rakyat,
yang pertama dilayani adalah pejabat.
Yang ditanya, “Mau dada atau paha?” adalah kita,
tapi yang dapat potongan terbaik bukan kita.
Kita cuma dapat remahan. Kadang cuma aromanya.
#TagarGarengPetruk:
#MauDadaAtauPahaTapiDapetTulang
#NegaraDriveThru
#JanjiKayaRempahAyam
#CrispyUntukKamiDagingUntukElit
#NgakakTapiMikir
Kalau kau masih lapar setelah baca ini, tenang… kita semua juga.
Tapi bukan hanya lapar ayam,
kita lapar keadilan yang nggak cuma digoreng-goreng.
















