DI BALIK KOLOR PAK BAGYO
Desa Kecemani — Kalau sampeyan lewat depan balai desa dan lihat Pak Bagyo, kepala desa kita itu, lagi duduk di kursi plastik warna biru muda sambil nyeruput kopi dan garuk-garuk perut, jangan anggap remeh tampilan merakyatnya. Di balik kolor yang setia ia kenakan sejak zaman kampanye pilkades dulu itu, tersembunyi sebuah kisah tragis nan jenaka, absurd tapi nyata: nafsu, birahi kekuasaan, dan selembar kuitansi pengadaan tenda hajatan.
Pak Bagyo dikenal warga sebagai “Kepala Desa Merakyat”. Tapi rakyat mana, belum jelas. Karena sejak ia menjabat, jalan rusak nggak dibenerin, tapi ruang kerja beliau dipasangi AC tiga biji: satu buat kepala, satu buat pinggang, satu buat kolor. Katanya, biar pikirannya adem waktu mikir proyek dana desa. Nyatanya, yang adem malah niatnya buat ngelobi tender.
Kolornya? Jangan salah! Itu kolor legendaris. Warna hijau lumut pudar, sudah jadi semacam simbol kekuasaan ndeso. Konon katanya, tiap dia pakai kolor itu ke rapat RT, keputusan langsung diketok. Pernah waktu warga ribut soal pembagian bantuan sosial, Pak Bagyo datang cuma pakai kolor, sendal jepit, dan kaos oblong. Hasilnya? Semua warga langsung setuju, bukan karena sepakat, tapi karena jijik mau debat sama kepala desa yang… bau kecut.
Tapi bukan cuma soal gaya berpakaian, di balik kolornya tersimpan rahasia keinginan tak terbendung: ingin tiga periode, empat kalau bisa. “Kalau Jokowi bisa dua, aku harus lebih. Ini bukan ambisi, tapi panggilan kolor,” katanya suatu malam saat ngopi di warung Mbok Yem.
Beberapa warga menduga kolor itu sudah dimantrai dukun politik. Karena tiap musim Pilkades, entah kenapa, calon lain tiba-tiba mundur. Alasannya macam-macam: ada yang katanya kesurupan, ada yang kabur ke kota, ada juga yang tiba-tiba jual angkringan dan tobat politik. Katanya, “Saya gak sanggup hadapi kolor itu!”
Lebih lucunya lagi, kolor itu juga sering dipakai sebagai “alat negosiasi”. Waktu inspeksi pembangunan jalan desa fiktif, Pak Bagyo cuma datang, duduk selonjoran di pinggir jalan, colak-colek batu kerikil sambil bilang, “Ojo ribut, sing penting anggaran cair.” Dan cairlah… ke rekening pribadi atas nama “Pak Beji”, tetangganya yang mantan pemain ketoprak.
Di balik kolor Pak Bagyo, ada cerita tentang kekuasaan yang tak mau lepas.
Ada birahi untuk disanjung, ada hasrat untuk mengatur bahkan saat gak tahu apa yang diatur. Ada nafsu untuk terus duduk di kursi walau sudah nggak ada yang percaya. Dan tentu, ada korupsi. Karena ternyata, kolor itu juga dibeli pakai dana desa tahun anggaran 2021, kode anggaran: Pakaian Tradisional Kepala Desa (1 potong, Rp 2.450.000).
“Wong ndeso kok kolor-ne branded, merek ‘Kolor Suci Nawaitu Korupsi’.”
— Petruk, sambil nyengir dan garuk-garuk dengkul karena geli liatnya.
Catatan: Semua tokoh dan kolor dalam cerita ini fiktif. Jika ada kesamaan nama dan bentuk kolornya, itu berarti Anda pernah jadi korban kepala desa yang sama. 😁
Redaksi: Harian Nasional Gareng Petruk – Lucu-lucu ngangkat isu, nyelekit tapi bikin ketawa dulu baru mikir kemudian.
















