Jember, 23 Juni 2025 – Di sebuah dusun yang damai namun menyimpan gelisah, Curahancar namanya. Terletak di Jalan Airlangga RT 01 RW 08, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Pagi yang biasanya hanya diisi kokok ayam dan suara cericit burung, hari itu terdengar suara langkah pasti: evakuasi pasien gangguan kejiwaan bernama Ahmad Fajar Jauhari, usia 32 tahun. Bukan evakuasi karena bencana, tapi karena cinta—cinta masyarakat yang tak ingin diam saja melihat saudara mereka terlunta dalam gelombang pikirannya sendiri.
Fajar, begitu dia biasa dipanggil, tinggal sendiri sejak kedua orang tuanya berpulang. Kakaknya? Sudah lama pindah ke Bali, lebih sering muncul di status WhatsApp daripada di beranda rumah masa kecil. Untung masih ada tantenya yang sabar ngopeni, meski usia tak lagi muda.
Sutrisno, sang Kasun (Kepala Dusun) yang tak hanya paham urusan RT RW tapi juga rasa empati, angkat bicara:
“Anak iki dulune wes pernah sembuh pas dibawa ke Dinsos, tapi akhir-akhir ini kok kambuh maning. Lha piye, wong kadang mobil lewat wae di-lempar watu. Ya daripada entar ada korban, kami rembukan: ayo bareng-bareng ditangani.”

Begitulah, Sutrisno bukan hanya bicara, tapi langsung koordinasi. Dihubungilah pihak Desa, Puskesmas, hingga Dinas Sosial. Hasilnya? Aksi gotong royong tingkat tinggi yang patut di-like dan subscribe oleh para pejabat yang kadang sibuk seremonial tapi lupa soal sosial.
Dhani Firdausy, TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) Rambipuji, pun merapat. Dia menjelaskan dengan tenang, tanpa gaya-gayaan:
“Begitu ada laporan, kami langsung turun. Sayangnya, Liposos penuh, jadi opsi terbaik adalah rujukan ke RSJ Lawang. Setelah rembukan dengan keluarga dan instansi terkait, alhamdulillah mereka setuju.”

Nah lho, Liposos saja penuh. Tanda tanya besar: kenapa bisa penuh? Apakah rakyat makin gila, atau dunia yang bikin orang waras ikutan tergelincir?
Lanjut. Bapak Joko dari Puskesmas Rambipuji menambahkan dengan gaya santai tapi tegas:
“Fajar ini kambuh karena obatnya tidak diminum secara teratur. Harusnya dua kali sehari, tapi katanya nggak mau minum. Kalau diteruskan bisa mengganggu masyarakat. Makanya harus segera ditangani.”
Sindiran Tipis-tipis ala Petruk:
Petruk yang kebetulan lagi duduk ngopi di pos kamling sambil ngelus dada nyeletuk:
“Wong edan ditangani rame-rame, lha wong waras rebutan kursi malah saling jegal. Puskesmas, desa, Dinsos kompak, lha kok DPR malah rebutan pansus?”
Ya, kadang yang gangguan jiwa itu bukan cuma Fajar, tapi sistem sosial kita yang kadang pura-pura waras. Obatnya bukan cuma pil dan suntikan, tapi empati dan gotong royong. Seperti yang dilakukan warga Rambipuji hari itu—tanpa drama, tanpa kamera 16 angle, langsung gerak dan kerja.
Penutup ala Gareng:
Hari itu, bukan cuma Fajar yang dibawa ke RSJ Lawang. Tapi juga harapan—harapan bahwa negara ini masih punya warga yang peduli, aparat yang sigap, dan desa-desa yang tidak buta akan penderitaan tetangganya.
Kalau pasien gangguan jiwa saja bisa dirujuk dengan cepat, semoga rakyat yang waras tapi stres karena harga sembako, pungli, dan janji palsu juga bisa segera diobati. Syukur-syukur kalau DPR dan elit politik ikut screening kejiwaan, siapa tahu perlu terapi kelompok tiap reses.
Karena waras itu mahal, dan yang lebih mahal lagi adalah kepedulian.
Dari Rambipuji dengan penuh rasa, Gareng Petruk melaporkan sambil ngelap peluh dan tetap bercanda, sebab hidup kadang terlalu serius untuk tidak ditertawakan.
















