Jakarta, garengpetruk.com – Kalau dulu kita sering denger pepatah “surga di telapak kaki ibu,” sekarang malah sering kita dengar: “ibu di bawah telapak kaki anaknya.” Ya, kisah tragis kekerasan terhadap perempuan dan lansia akhir-akhir ini bikin bulu kuduk berdiri dan hati nurani berontak—kalau masih punya, tentu.
Menyikapi hal ini, Perempuan ICMI alias Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia bagian perempuan—yang jelas otaknya encer, hatinya peka, dan akhlaknya tak sekadar jadi poster motivasi—langsung angkat suara. Dr. (Can) Welya Safitri, M.Si, Ketua Umum Perempuan ICMI, melalui siaran pers tertulisnya pada Senin, 23 Juni 2025, menyatakan:
“Pemukulan ibu di Bekasi, pembunuhan nenek di Bangkalan—itu bukan hanya kriminal, tapi alarm darurat moral nasional. Komnas Lansia harus diaktifkan kembali!”
Betul, Bu Welya! Lha wong lansia sekarang makin tua bukan makin dihormati, malah jadi korban cucu durhaka yang entah belajar akhlak dari mana—mungkin dari kolom komentar YouTube.
Komnas Lansia: Mati Suri di Negeri yang Katanya “Bersaudara”
Komnas Lansia, dulunya dibentuk buat melindungi hak dan martabat para sesepuh bangsa. Tapi entah kenapa sekarang nasibnya kayak TV rusak di rumah nenek: nganggur, berdebu, dan dilupakan. Padahal di negara dengan populasi lansia yang terus naik ini, lembaga kayak Komnas Lansia itu penting—bukan hanya buat stempel proyek, tapi buat jaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Pendidikan akhlak anak bukan cuma soal nilai rapor, tapi soal praktik nyata dalam hidup sehari-hari,” lanjut Welya sambil melotot ke arah sistem pendidikan yang kadang sibuk ngajar coding, tapi lupa ngajarin cara minta maaf ke orang tua.
Sindiran Tipis-tipis Ala Petruk:
Petruk yang mendengar siaran pers ini langsung ambil serbet dan nyeka air mata (yang entah beneran atau karena ngantuk) lalu nyeletuk:
“Kok yo miris, nek Komnas Lansia malah pensiun, pas orang tua justru makin butuh perlindungan. Nek kakek nenek kudu demo dulu baru dilindungi, yo piye toh negara iki?”
Sambil ngemil rengginang di warung kopi, Petruk melanjutkan:
“Anak zaman now pinter teknologi, tapi ora pinter ndungo no wong tuwa. Bisa bikin video viral, tapi ora iso nyekel tangan ibune sing nangis.”
Perempuan ICMI: Siap Jadi Garda Depan
Perempuan ICMI tidak tinggal diam. Mereka menyatakan siap mendukung pemerintah—khususnya Presiden Prabowo Subianto—untuk menghidupkan kembali Komnas Lansia dan menata ulang pendidikan akhlak anak sejak dini. Bukan cuma lewat slogan, tapi lewat kebijakan nyata.
“Kalau diperlukan, kami siap bantu Presiden,” ujar Welya.
“Yang penting, perempuan dan lansia tidak lagi jadi korban di tengah hingar bingar pembangunan.”
Penutup Ala Gareng:
Gareng, sambil dengerin berita ini di radio butut warung kopi pinggir jalan, nyeletuk:
“Kalau nenek-nenek sudah tidak aman di rumah sendiri, dan ibu-ibu jadi korban anak sendiri, berarti negara kita sedang krisis: bukan krisis ekonomi, tapi krisis empati.”
Semoga Perempuan ICMI bisa terus jadi suara yang tak hanya cerdas, tapi juga peduli. Bukan cuma ikut seminar, tapi benar-benar menanamkan nilai. Karena negeri ini tak butuh cendekiawan yang hanya pandai berbicara, tapi yang mau turun tangan membela mereka yang tak lagi kuat berdiri.
Karena tua bukan berarti lemah. Dan hormat kepada orang tua bukan budaya kuno, tapi pondasi negara yang waras.
Siaran dari Jakarta, dengan penuh sindiran dan secangkir kepedulian, Gareng Petruk menulis sambil ngingetin kita: kalau orang tua dan perempuan sudah tak aman, mungkin bukan mereka yang sakit… tapi kita semua yang sudah mati rasa.















