JAWA DWIPA – Kabar hilangnya Bagong, mantan Ketua DPRD Jawa Dwipa, bikin geger satu kampung, dua grup WA, dan tiga pangkalan ojek. Mantan petinggi dewan yang dulu dielu-elukan pas pemilu, kini malah jadi buronan pertanyaan: “Bagong ke mana, Rek?”
Kata anaknya, Petruk – yang kini lebih cocok jadi detektif daripada pelawak – Bagong terakhir terlihat di peternakan ayamnya di Dusun Wonokoyo, mengenakan batik biru dan celana komprang. Celana yang katanya punya jimat anti-OTT. Tapi ternyata, jimat tinggal jimat, Bolo Kurowo tetap datang menjemput.
—
Kronologi Singkat, tapi Rasa-rasanya Panjang
Rabu, 4 Juni, sekitar pukul 11.00 WIB, tiga makhluk misterius datang. Satu pakai topi fedora ala agen CIA, satu lagi naik mobil, satunya ngumpet di balik tiang listrik sambil pegang gawai. Kata warga, logat mereka mirip-mirip dari Pulau Batoro Asin, pulau yang tak masuk peta tapi masuk anggaran siluman.
Bagong, bukannya panik, malah ikut masuk mobil dengan wajah datar dan mulut mangap kayak orang habis makan mangga muda. Dan setelah itu?
ZONK.
HP-nya mati. WA centang satu. Lokasi nyasar. Hati keluarga? Ya… cenat-cenut.
—
KPK, Bolo Kurowo, dan Pulau Penuh Cerita
Bagong memang bukan tokoh biasa. Ia sempat jadi tokoh utama dalam drama hibah pokmas APBD Jawa Dwipa, tahun 2019–2022. Tapi setelah sahabat sejatinya, Sengkuni, ditangkap dan ngaku-ngaku banyak, nama Bagong mulai mencuat sebagai “pemain lama yang belum ketangkap kamera”.
Publik bertanya:
“Apa hilangnya Bagong ini bentuk penculikan… atau justru perlindungan sakral dari sindikat Bolo Kurowo yang merasa malu kalau bos mereka sampai ditangkap tukang OTT?”
Pulau Batoro Asin – nama yang jarang terdengar, tapi katanya jadi markas pasukan bayangan. Tempat para elite yang suka main belakang dan makan anggaran depan.
—
Celoteh Warga + Sindiran Halus
Warga Wonokoyo, meski sedih, tetap punya humor:
> “Lha ini piye? Ayamnya masih ada, yang hilang malah juragannya!”
Salah satu ibu-ibu PKK nyeletuk:
> “Ya Tuhan, semoga Pak Bagong ketemu. Tapi kalau boleh saran, sekalian aja dibawa pengadilan langit dulu, biar tahu siapa yang lebih berat: dosa atau dompetnya?”
—
Gareng: “Ini Bukan Hilang, Tapi Karma Jalan”
Sebagai kolumnis, aku cuma bisa nyimpulkan satu: Kadang manusia nggak lari dari hukum, tapi malah dijemput diam-diam.
Yang dulu suka ngatur dana, sekarang malah dianter entah ke mana.
Dan misteri Bagong ini seolah ngasih pesan pada para tokoh bangsa lain:
Kalau kerja buat rakyat ya serius, jangan cuma semangat pas kampanye.
Kalau niatnya buat korupsi, siap-siap aja disamperin… entah sama KPK, entah sama Bolo Kurowo.
—
Akhir Cerita atau Awal Drama?
Kini, seluruh Jawa Dwipa menunggu kabar Bagong. Apakah dia disembunyikan? Diculik? Atau… kabur sambil bawa ayam petelur sebagai pelindung? Entahlah. Yang jelas, rakyat sudah capek dengan drama-drama elite yang akhirnya makan uang rakyat tapi nelongso di ujung jalan.
Semoga Bagong segera ketemu. Bukan untuk pulang kampung, tapi untuk pulang ke pengadilan.
Karena di negara yang katanya demokrasi ini, rakyat boleh salah pilih, tapi hukum jangan sampai salah diam.
Dari Batu, dengan hati-hati dan ngetik pakai dua jari,
Gareng Petruk – yang masih belum hilang, cuma ngilangin lelah. 🕵️♂️🐓📱
















