Senin, 23 Juni 2025
“Sampahmu, tanggung jawabku. Tapi retribusinya, jangan lupa transfer, rek!” – Petugas DLH yang nyapu sambil merapal doa
Pandeglang, Banten – Di balik bau semerbak tumpukan plastik, sisa tahu bulat, dan botol sirup bekas Lebaran, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pandeglang punya mimpi suci nan mulia: menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat retribusi persampahan. Lha iya, wong kalau dari emas susah, ya dari sampah pun jadi!
Pak Winarno dari DLH bilang, salah satu pemasok utama cuan daerah itu ya dari sampah. Bukan dari sapi kurban, bukan dari jajan cilok, tapi dari tumpukan yang biasa kita anggap jijik tapi diam-diam berpotensi jadi “emas kotor”.
“Armada kita ada 40-an, itupun campur truk gede sama truk ngap-ngapan,” ujarnya sambil nunjuk ke mobil sampah yang bannya kayak lagi puasa angin. Masalahnya, armada ini cuma bisa menjangkau 22 kecamatan dari total 35. Artinya, ada 13 kecamatan yang sampahnya masih mandiri alias “biar dibawa angin saja.”
Mimpi Tinggi, Ban Kempes
Meski realisasi PAD baru ngintip dari bawah angka 50 persen, DLH tetap optimis. Optimis kayak mahasiswa skripsi yang baru bab 1 tapi udah ngomong “minggu depan wisuda.” Tapi tenang, katanya strategi percepatan udah digeber. Gak tahu percepatan kayak apa, yang jelas tiap hari TPA Bangkonol nerima 150 ton sampah. Coba bayangin, 150 ton itu kalau dijadiin martabak telur, bisa ngasih makan 3 kecamatan sampe kekenyangan.
Sampahku, Harapanku
DLH janji bakal memperluas jangkauan pengangkutan. Targetnya, seluruh Pandeglang bisa tersentuh roda-roda kebersihan. Tapi ya itu, selama armadanya masih kayak pasukan pensiunan dan anggarannya lebih kecil dari bujet istri belanja skincare, rasanya berat, Mas.
Gareng ngelus dada—dan hidung—karena bau-bau harapan ini harus ditopang oleh masyarakat juga. Katanya sih, masyarakat perlu diedukasi soal pentingnya buang sampah pada tempatnya. Tapi lucunya, kadang petugas DLH bersihin jalanan, eh ada emak-emak dari atas motor buang plastik es kopi seenaknya. Sambil teriak, “Maaf ya Pak, saya buru-buru!”
Sindiran Manis ala Gareng
Mari kita renungkan sebentar. Kita ini hidup di negeri yang rajin ngebikin aturan, tapi lupa ngebikin budaya. Bayar retribusi sampah? Ah, nanti-nanti aja. Ngomel soal jalan kotor? Tapi masih nyampah sembarangan. Mau kota bersih tapi males buang sampah di tempatnya—kita ini maunya apa, toh?
Kalau pemerintah cuma dikasih truk tua, sopir lelah, dan retribusi yang suka ngilang kayak mantan, lalu masyarakatnya juga gak sadar diri, ya kapan majunya, Cak?
DLH Pandeglang sedang berusaha keras. Kita kasih tepuk tangan, minimal jangan buang sampah ke jalan. Biar target PAD dari sampah bisa tercapai, dan Bangkonol gak meledak karena kelebihan muatan.
Ingat, kata orang bijak (dan tukang rongsok):
“Sampah di tangan kanan, retribusi di tangan kiri, bersihlah kampung, senanglah hati.”
Salam dari tumpukan botol plastik,
Gareng Petruk – Sang Pencatat Bau Harapan dari Sudut Kota
Kalau kamu masih buang sampah sembarangan, ingat…
Sampah itu tak punya kaki, tapi bisa nyamperin karma.
















