Assalamu’alaikum… SUDAH CONNECT BELUM?!
Kalau belum, mungkin hatimu lagi di mode pesawat.
Atau sinyalnya nyambung ke dunia terus, lupa ganti jaringan ke Langit.
Tenang… malam ini kita gak bahas algoritma,
tapi tentang perasaan-perasaan yang tak pernah kita selesaikan.
Karena ada hal-hal…
yang tak bisa kita kirim lewat WhatsApp,
yang tak bisa kita posting di story,
tapi cuma bisa dititipkan pada… Allah.
—
Teruntuk kamu…
yang pernah menulis surat tanpa tinta.
Surat itu gak pernah sampai ke siapa-siapa.
Karena memang bukan untuk manusia.
Itu ditulis di tengah malam…
dengan air mata yang tak jatuh,
dengan dada yang penuh sesak,
dengan jiwa yang bilang,
“Ya Allah, aku udah gak tahu lagi harus ngomong apa…”
Surat itu… tak pakai pena, tak pakai kertas.
Cuma ditulis di halaman hati yang udah mulai sobek.
Isinya? Bukan puisi cinta,
tapi luka-luka yang ingin dibersihkan.
Bukan harapan,
tapi penyesalan.
Kamu mungkin gak pernah kirim surat itu…
Tapi Allah tetap membacanya.
Karena bagi Allah,
tulisan yang paling jelas adalah ratapan yang disembunyikan.
Lalu kamu mencoba berdoa.
Tapi… mulutmu gak bisa bicara.
Kata-kata macet, lidah kaku.
Akhirnya kamu cuma duduk, sujud, diam.
Dan kamu kira, “Ah, doaku gak sampai…”
Padahal di saat itulah…
doamu sedang paling nyaring.
Karena Allah…
tak menunggu suara.
Allah menunggu kejujuran dari jiwa.
Doa tanpa kata…
adalah saat kamu gak bisa berkata “tolong”,
tapi hatimu berteriak…
“Ya Allah, cukup, aku lelah.”
Dan justru saat itu…
Langit mendekat padamu.
Peluk kamu… tanpa terlihat.
Lalu kamu berkata…
“Aku mencintai Allah.”
Tapi kamu gak merasa apa-apa.
Sholatmu kosong.
Dzikirmu hambar.
Hatimu datar.
Kamu mencinta… tapi tak punya rasa.
Bukan karena kamu gak tulus,
tapi karena jiwamu sedang mati rasa.
Dan itu bukan tanda kamu jauh…
tapi tanda kamu sangat rindu.
Karena cinta sejati…
kadang gak bikin deg-degan.
Tapi bikin kamu nunduk.
Bikin kamu malu.
Bikin kamu bilang,
“Ya Allah… walaupun aku begini,
aku masih ingin mencintai-Mu…”
Tapi cinta itu… kamu sembunyikan.
Kamu takut dianggap lebay.
Kamu malu jadi baik.
Akhirnya kamu menangis…
bukan di depan orang…
tapi dalam tangis yang tak berair mata.
Tangis yang gak bisa dilihat siapa pun.
Tangis yang bahkan kamu sembunyikan dari dirimu sendiri.
Tangis… saat kamu sadar:
“Aku salah. Aku gagal. Tapi aku masih pengen pulang…”
Dan benar… kamu rindu.
Rindu… tanpa pelukan.
Kangen sama seseorang… yang udah gak bisa dipeluk.
Kangen sama ayah, ibu,
kangen masa kecil,
kangen dirimu yang dulu, yang lebih dekat dengan Allah…
kangen suasana yang sekarang udah gak bisa kamu temui lagi.
Dan yang paling dalam:
kamu rindu Allah.
Tapi… gak tau gimana caranya kembali.
Karena dosa kamu udah numpuk,
aib kamu udah gak kehitung.
Kamu mikir… “Allah masih mau gak ya sama aku?”
Dengar baik-baik…
Allah itu tak pernah menutup pintu.
Yang menutup cuma egomu.
Dan akhirnya kamu berkata,
“Aku mau pulang.”
Tapi… pulang ke mana?
Rumah udah bukan tempat aman.
Teman bukan tempat bersandar.
Keluarga gak selalu paham.
Dan kamu sadar…
kamu sedang pulang tanpa rumah.
Tapi… Allah itu rumah.
Bukan bangunan. Tapi rasa tempat pulang.
Tempat kamu bisa rebah, rebek, remah…
dan tetap diterima.
Bahkan kalau kamu pulang bawa hati yang hancur,
Allah gak akan bilang:
“Kenapa jelek banget?”
Tapi Dia akan berkata:
“Akhirnya kamu pulang…”
—
Teruntuk kamu…
yang hidupnya gak seindah feed Instagram.
Yang doanya gak seindah khutbah Jumat.
Yang hatinya pecah tapi tetap tersenyum…
Ketahuilah,
kamu tidak sendiri.
Kamu hanya sedang dalam perjalanan pulang.
Dan Allah…
sedang membuka pintu-Nya
lebar-lebar…
tanpa tanya, tanpa syarat,
cukup datang…dan bilang:
“Ya Allah, aku kembali…”
—
Wassalamu’alaikum… SUDAH CONNECT BELUM?!
Kalau belum… ayo kita reset hati,
ganti jaringan dari dunia ke akhirat.
Karena sinyal-Nya gak pernah lemot,
server-Nya gak pernah down,
dan kasih sayang-Nya…selalu unlimited.














