Assalamualaikum… Sudah Connect Belum?
Alhamdulillah kalau sudah connect. Kalau belum? Coba restart hatinya, nyalain mode pesawatnya, biar disconnect dulu sama dunia, lalu sambung lagi… siapa tahu sinyal ke Allah makin kenceng!
—
“Kalau Aku Pulang, Kalian Dengan Siapa?”
Sederhana ya kalimatnya? Tapi tajam.
Menusuk. Dalam.
Lebih ngeri dari notifikasi pinjaman online.
—
Untuk Seorang Ayah
Wahai Ayah…
Kalau aku pulang, engkau akan bersama siapa?
Apakah engkau akan tetap duduk di beranda rumah, menunggu anak-anak yang sibuk mengejar dunia… atau engkau pulang ke Allah dengan hati penuh kecewa?
Kau korbankan lelah, kau telan kerasnya dunia, tapi ketika kau lelah, adakah anak-anakmu tahu harus memijat pundakmu… atau malah menyuruhmu kirim saldo?
—
Untuk Seorang Ibu
Wahai Ibu…
Kalau aku pulang, siapa yang akan menemanimu?
Tangismu malam-malam dulu, adakah pernah kami gantikan dengan doa?
Atau kami terlalu sibuk update story, tapi lupa memelukmu?
Engkau tak minta balasan… hanya waktu. Tapi kami selalu sibuk.
Jangan-jangan ketika engkau pulang, kami sedang sibuk rebutan warisan?
—
Untuk Seorang Anak
Wahai anakku…
Kalau aku pulang, kau akan dengan siapa?
Gadget tak akan memelukmu saat takut.
Uang tak akan mencium keningmu saat kau jatuh.
Jika aku yang pulang dulu, siapa yang akan menuntun langkahmu?
Jangan sampai kau besar di dunia… tapi yatim di surga.
—
Untuk Sepasang Kekasih
Kalau aku pulang duluan, apakah cinta ini tetap suci?
Atau hanya tinggal kenangan yang berlendir dosa?
Cinta yang tak dipatri dalam ridha-Nya hanya indah di mata… tapi busuk di akhirat.
—
Untuk Seorang Pemimpin
Wahai pemimpin…
Kalau rakyatmu pulang duluan karena lapar, karena putus asa…
Kau akan pertanggungjawabkan di mana?
Kekuasaan itu bukan panggung teater…
Kalau engkau pulang, Allah tak tanya seberapa tebal jasmu, tapi seberapa tegas adilmu!
—
Untuk Rakyat
Wahai rakyat…
Kalau pemimpinmu pulang duluan, apakah engkau siap mandiri?
Atau engkau tetap menggantungkan nasibmu pada orang yang bahkan tak tahu nama anakmu?
Negara bukan sinetron… jangan hanya nonton, ayo main peran!
—
Untuk Seorang Sahabat
Kalau aku pulang duluan, sahabat…
Apakah engkau akan kirim doa atau cuma status “Innalillahi…” lalu scroll ke meme berikutnya?
Sahabat bukan cuma bareng di tongkrongan, tapi juga saling dorong ke surga.
—
Untuk Seorang Musuh
Kalau aku pulang, dan engkau masih dendam…
Siapa yang rugi?
Apa engkau mau bawa benci sampai liang lahat?
Maaf itu bukan kalah… itu menang yang paling elegan.
—
Untuk Seorang Imam
Kalau aku pulang duluan dari saf, Imam…
Apakah engkau sempat mengajarkan kami istiqamah?
Atau hanya baca doa panjang-panjang biar terlihat khusyuk, tapi lupa makmumnya sudah keseleo kaki?
—
Untuk Seorang Makmum
Kalau imam pulang duluan, siapa yang kau ikuti?
Apakah kau paham arah kiblat… atau cuma ikut-ikutan saf tanpa tahu tujuannya?
—
Wahai diri…
Kalau aku pulang…
Dengan siapa aku akan pulang?
Apakah aku pulang membawa iman… atau sekadar tubuh yang layu?
Apakah aku sudah connect dengan Allah… atau masih buffering dengan dunia?
—
Hidup ini cuma dua episode:
1. Masuk dunia dari rahim ibu
2. Keluar dunia menuju liang kubur
Yang bikin kita repot itu plot twist-nya…
Kita kira hidup ini long life battery, padahal cuma powerbank pinjaman.
—
Jadi… Wahai kalian yang sedang membaca ini…
Cobalah tanya ke dalam hati:
“Kalau aku pulang… kalian dengan siapa?”
Dan lebih penting lagi…
“Kalau aku pulang… aku dengan siapa?”
Apakah aku pulang dengan amal atau cuma angan?
Apakah aku pulang dengan cinta atau cuma dosa?
—
Assalamualaikum… Sudah Connect Belum?
Kalau belum, ayo segera sambung lagi.
Karena sinyal ke Allah tak pernah putus…
Tinggal kita yang terlalu banyak paket dosa dan lupa upgrade iman.
















