Jatinom – Di tengah zaman di mana anak-anak muda lebih hafal lirik lagu K-Pop ketimbang butir-butir Pancasila, muncul satu oase edukatif di kaki Merapi: SMA N 1 Jatinom, Klaten. Sekolah ini, alih-alih hanya sibuk mengejar ranking akreditasi dan viralitas TikTok, justru ngehits lewat acara “Forkopimda dan BPIP Goes to School”, yang ngasih sentilan sekaligus teladan soal pentingnya nilai-nilai Pancasila.
“Saya harap kerja sama seperti ini terus berlanjut. Siswa jadi bisa melihat wajah Forkopimda dari dekat, bukan cuma dari baliho waktu musim kampanye,” ujar Kepala Sekolah Dra. Eny Sulistyowati, M.Pd., sambil tersenyum di depan kamera, dengan semangat Pancasila membara, tapi tetap modis dengan blazer corak batik tulip.
Ibu Eny, dengan gaya yang adem tapi nendang, menjelaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah tidak cuma jadi bahan hafalan Ujian Sekolah, melainkan diolah, dijadikan kudapan keseharian, lewat kurikulum dan kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)—yang, menurut sumber terpercaya, jauh lebih sehat daripada tren “challenge 24 jam makan micin”.
Di SMA ini, nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air tak cuma jadi quote dinding kelas, tapi benar-benar dijalankan. Bahkan, mereka punya literasi digital setiap Rabu, bukan untuk nge-like postingan selebgram, tapi buat “memastikan bahwa digitalisasi sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.”
“Kita ajari mereka memilah pergaulan, jangan sampai pergaulan digital berujung jadi korban viral,” tegas Bu Eny, mengingatkan bahwa di zaman sekarang, kesalahan satu swipe bisa mengubah masa depan.
Gareng Petruk pun nyeletuk:
“Wah, bagus to! Di sini anak-anak diajar milih temen, bukan milih influencer yang suka flexing barang tapi nihil nilai!”
Acara Forkopimda dan BPIP ini tak ubahnya kayak ngopi bareng tapi isinya makna, mempertemukan siswa dengan pemangku kebijakan. Harapannya bukan cuma jadi ajang seremonial selfie bareng pejabat, tapi juga menyulut percikan semangat anak muda untuk jadi warga negara yang waras, bukan cuma warganet yang galak di kolom komentar.
Kritik Garengpun menggelitik:
“Kadang negara ini terlalu sibuk merayakan ulang tahun Pancasila, tapi lupa ngajarin caranya hidup pakai Pancasila. Lah, SMA Jatinom ini justru ngajarin dari dasar: dari nulis status WhatsApp sampai nyebrang jalan—semuanya bisa pakai nilai Pancasila.”
Kepala Sekolah juga menekankan bahwa Pancasila itu bukan barang antik yang cuma dipajang di upacara, tapi kompas hidup. Kalau siswa dari kecil udah diajar memilah informasi, menjaga sopan santun digital, hingga berani menolak tawaran toxic dari lingkungannya, ya insya Allah negara kita gak perlu lagi ngebet bikin lembaga-lembaga baru buat nyari moral yang hilang.
Akhir kata dari redaksi Garengpetruk:
SMA N 1 Jatinom telah menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar rumus, tapi juga tempat menempa nurani. Semoga sekolah-sekolah lain meniru, bukan cuma bikin laporan penguatan karakter demi akreditasi, tapi benar-benar menjadikan siswa manusia, bukan sekadar mesin nilai.
Dari Jatinom, kami lapor sambil geleng-geleng: Ternyata Pancasila masih relevan, tinggal kita mau hidupin apa enggak.
Eko Setyo Atmojo | garengpetruk.com
“Pancasila bukan pajangan, tapi pegangan. Bukan sekadar sila-sila, tapi sila hidup bersama.”















