Pembuka (Menggelitik Pikiran):
Di Desa Ngawonggo, Ceper, Klaten, Jumat (19/12), anak muda biasanya kumpul buat cari sinyal atau bahas masa depan yang masih buram. Tapi kali ini beda. Yang dibahas bukan cuma mimpi, tapi fondasi negara. Anggota MPR RI, Didik Haryadi, datang membawa Empat Pilar Kebangsaan—bukan buat dihafal kayak mantra, tapi dipahami biar bangsa ini nggak gampang ambruk.
Di depan generasi muda, Didik bicara lugas. Katanya, Gen-Z itu calon pemegang kemudi negeri 20 tahun ke depan. Kalau dari sekarang nggak dikasih peta dan rem yang benar, jangan kaget kalau nanti negaranya belok-belok sendiri. Empat pilar—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—harus ditanam sejak dini, biar rasa tanggung jawab tumbuh bareng mimpi.
Tak cuma soal negara, Didik juga “jualan” inspirasi hidup. Dari keluarga sederhana, ibu penjual sapu di pasar, ia memulai hidup sebagai tukang las tralis jendela. Dari percikan api bengkel, jalannya berujung ke Senayan. Pesannya sederhana tapi ngena: jangan minder jadi wong cilik. Mimpi boleh tinggi, asal mau mulai dari bawah dan tahan banting.
Buat anak muda yang kepikiran nyemplung ke politik, Didik kasih bekal: baca buku tokoh inspiratif, aktif organisasi, dan rajin bangun relasi. Tapi ada satu syarat penting yang sering dilupakan: ekonomi harus “bakoh”. Tanpa itu, kata Didik, orang berdiri saja miring—langkah hidup dan rezekinya bisa ikut miring.
Dalam rangkaian kunjungan, Didik juga hadir di acara feodalan Candi Untoroyono bersama umat Hindu Klaten. Sebuah penegasan sunyi bahwa kebangsaan bukan cuma pidato, tapi hadir di ruang-ruang keberagaman.
Celetuk Petruk:
“Negara itu kayak rumah. Empat pilarnya kudu kuat. Tapi ojo lali, Le—yang mau jadi politisi jangan cuma kuat omongannya. Dompet dan nuraninya juga harus lurus. Kalau tidak, nanti yang bengkok bukan cuma jalan, tapi arah bangsa.”
















