Surabaya, 19 Juni 2025 – Bayangkan begini: pagi disambut suara klakson, siang dihajar panas 37 derajat Celsius plus aroma solar dari truk kontainer, malam dihiasi lampu neon dari kafe minimalis yang jual kopi maksimalis. Tapi di tengah hingar-bingar beton dan kabel fiber optik, ada sekelompok manusia berseragam ide—yang masih percaya bahwa puisi bisa menyembuhkan kota.
Mereka inilah yang bersatu dalam Forum Pegiat Komunikasi Surabaya (FPKS) lewat acara Surabaya Hari Ini #2 bertajuk “Kota dan Kesenian”. Gak cuma angkat wacana, tapi juga angkat-angkat kursi, nenteng kanvas, ngetik puisi, sampai ngatur lighting. Pokoknya serius tapi santuy. Profesional tapi gotong-royong. Modern tapi tetep njawani.
Kota Besar, Jiwa Kecil?
Surabaya itu ibarat anak muda tanggung: udah gede, tapi masih galau soal jati diri. Mau jadi kota industri? Sudah. Mau jadi kota dagang? Beres. Tapi pas ditanya: “Jiwamu di mana, rek?” Nah, di sinilah kesenian masuk, bukan sebagai pemanis, tapi sebagai napas. Sebab kalau semua cuma dihitung dari PAD dan jalur tol, lama-lama kota ini bisa sesak napas sendiri.
“Kesenian itu ruang tanding,” kata Jil Kalaran, koordinator FPKS, sambil melotot penuh semangat, bukan karena marah, tapi karena kelilipan semangat estetik yang membara.
FPKS tahu betul bahwa seniman di kota besar itu seperti benalu eksistensial: di satu sisi dianggap gangguan, di sisi lain justru menjaga ekosistem makna. Maka lewat acara ini, mereka bikin dua kegiatan: pertunjukan seni dan workshop penulisan kreatif sastra. Serius, rek. Bukan cuma buat selfie bareng lukisan, tapi beneran buat “ngopeni jiwa kota”.
Dari Tari Benalu sampai Monolog Burung Agung
Yang tampil? Wah, kaya parade keunikan rasa:
Budi Bi & Ami Tri: Senirupa pertunjukan dengan aksi lukis on the spot. Bukan lukisan ala-ala AI, tapi karya yang lahir dari detak jantung dan peluh kreatif.
Ribut Wijoto & Komandan Puisi: Lintas generasi bersuara dalam bait. Mulai dari Don Aryadien sampe Aji Kelono, semuanya meletupkan puisi seperti tempe goreng dalam minyak panas: mendesis, renyah, nendang.
Irfan Gepeng: Bawa Teater Tari Benalu. Ketika ditanya ruangnya sempit, dia jawab: “Formatnya diubah.” Gak ribet, gak drama. Cuma tari.
Henri Nurcahyo: Duta Orasi Budaya. Konon, dia bisa membedakan mana lobi dinas dan mana lobi kesenian cuma dari bau cat temboknya.
Bambang SP & Edy Jenggot: Musik dari Sawunggaling sampai lagu jenaka. Kolaborasi saxophone dan karawitan, seolah-olah Miles Davis kopi darat sama Ki Nartosabdo.
Totenk & Jeremiah Earvin: Monolog “Dihadapan Burung Agung.” Sebuah kontemplasi teatrikal yang mengandung tiga unsur penting: keluh, kelakar, dan ketukan jantung kota.
Workshop Sastra: Karena Kota Butuh Penulis, Bukan Cuma Influencer
Workshop-nya juga gak main-main. Bukan untuk ngajarin bikin caption estetik buat Instagram, tapi buat melahirkan penyair urban yang bisa menulis bukan cuma soal patah hati, tapi juga patah ruang publik, patah suara warga, dan patah moral tata kota. Tujuannya? Antologi Puisi Surabaya, yang semoga gak kalah viral dari novel-novel wattpad.
“Ini semua demi mengembalikan Surabaya sebagai Kota Literasi, bukan cuma kota literat-asal-update status,” kata Heti Palestina Yunani, pimpinan produksi FPKS, yang namanya saja sudah puisi.
GarengPetruk Nyeletuk:
“Kesenian dan kota itu kayak pasangan suami istri: harus saling ngerti, jangan cuma salah satu yang dominan. Jangan mentang-mentang punya duit, semua ruang diisi sama billboard iklan skincare!”
Dan benar saja, FPKS lewat Surabaya Hari Ini bukan cuma bikin acara, tapi bikin pengingat: kota itu bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat berpikir dan merasa. Di kota yang terlalu cepat ini, mungkin yang kita butuh bukan jalan tol baru, tapi panggung kecil buat baca puisi tentang burung agung dan suara rakyat kecil.
Akhir kata dari redaksi GarengPetruk:
Kalau kesenian di kota ini mati, maka kota ini hanya akan jadi tumpukan beton dengan suara deru mesin. Tapi kalau seni hidup, maka setiap lorong, taman, dan gang bisa berubah jadi museum jiwa. Maka jaga senimanmu sebelum semua suara berubah jadi dering notifikasi iklan properti.
Suroboyo ora mung arek e sing galak, tapi budayane sing getih e ora iso ilang.
Long live seni tanding!
Tri Wulaning Purnami – Surabaya Hari Ini, dalam liputan jenaka yang penuh makna
Gareng Petruk – editor sakti mandraguna, saksi budaya di tengah gelombang digital dan gentrifikasi















