Pembuka Menggelitik Pikiran
Klaten — SDN 02 Plosowangi, Cawas, sedang bermain petak umpet dengan maut. Bukan karena uji nyali, tapi tiga ruang kelas atapnya ambrol.
Total 31 siswa belajar dengan deg-degan: bukan takut nilai jelek, tapi takut langit jatuh.
Kepala Sekolah, Ibu Retna, sebisanya menyelamatkan anak-anak:
kelas dipindah ke ruangan lain, disekat ala kontrakan subsidi, dan area bahaya dikurung pakai tali pramuka—ya, standar keamanan nasional kaum mendiri.
“Masih ada yang ngeyel main di situ,” kata ibu kepala sekolah.
Namanya juga bocah, kalau dilarang malah makin penasaran:
“Lah kok dilarang? Seru berarti!”
Untungnya, saat atap beneran roboh, murid sudah pada pulang.
Kalau tidak… berita ini bisa jadi jauh lebih kelam dari satire.
Sekolah sudah 3 kali kirim proposal ke dinas, tapi ya gitu…
Proposalnya mungkin nyasar ke laci tak berujung.
Dikonfirmasi media, Bu Kadisdik singkat padat jelas:
“Njih kami cek segera.”
Kalimat yang cocok dijadikan slogan birokrasi:
‘Segera’, tapi tanpa tanggal kadaluarsa.
Sementara itu, para guru dan murid masih berjuang belajar di ruang darurat.
Ilmu tetap masuk… meski atap siap jatuh.

Catatan Semar
“Di negeri yang katanya merdeka belajar,
kok atap sekolah aja masih tak merdeka dari gravitasi?”
Sampai pemerintah turun tangan,
semoga yang turun cuma bantuan dan tukang,
bukan atap kelas lagi.
Tetap tertawa, tetap nalar — karena kewarasan harus dipertahankan!
















