(Adegan: Di parkiran bawah tanah sebuah mal besar. Lampu temaram. Petruk duduk bersila di samping motor bebek tua, di antara deretan mobil-mobil mewah. Ia memejamkan mata, tangan bertopang di lutut seperti sedang bertapa.)
Petruk:
Kadang…
kalau hatimu bising,
Gua Hira bisa berubah jadi basement parkiran.
Karena bertapa bukan soal tempat,
tapi soal sepi yang dicari,
dan Tuhan yang ingin ditemui.
(Ia membuka mata, melihat mobil mentereng yang baru parkir.)
Dunia ini lucu.
Di luar sana orang rebutan diskon,
sibuk adu gaya,
padahal semua akan kembali ke tanah
dengan kaus oblong dan kain kafan.
(Tersenyum sinis.)
Ada yang pakai jam 20 juta,
tapi tak tahu ke mana waktu berlalu.
Ada yang pakai parfum mahal,
tapi hatinya masih bau iri.
(Ia melihat ke atas, menyimak gema suara dari speaker mall.)
“Selamat berbelanja, semoga menyenangkan…”
Tapi kapan terakhir kali kau dengar suara hatimu sendiri?
Tuhan tak jualan di mal.
Tapi Dia sering numpang duduk di kursi sepi,
menunggu kita sadar
bahwa bahagia itu bukan di etalase,
tapi di pelukan, di syukur, di secangkir teh yang diseduh tulus.
(Petruk berdiri, menepuk celana, siap naik motornya lagi.)
Hari ini aku bertapa di tempat yang bau bensin,
tapi entah kenapa… hatiku wangi.
—
Pesan Moral ala Petruk:
“Kadang kita harus berhenti di parkiran hidup,
bukan untuk menyerah…
tapi untuk menyadari ke mana arah sebenarnya.”















