Jember, garengpetruk.com – Jumat pagi, 25 Juli 2025, halaman SMAN 3 Jember tiba-tiba lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada bazar cilok atau seleb TikTok mampir, tapi karena Wakil Bupati Jember, Dr. H. Djoko Susanto, S.H., hadir melepas pasukan baris-berbaris yang siap bertempur (dengan langkah tegap) di ajang LKBB Hari Konstitusi MPR RI di Mojokerto, 27 Juli 2025.
Yang dilepas bukan burung dara atau balon udara, melainkan kontingen 120 peserta dari SMAN 3, SMKN 3, dan SMKN 4 Jember. Dengan semangat membara dan wajah penuh harapan (plus sedikit deg-degan), mereka bersiap membawa harum nama Jember, bukan hanya di barisan depan, tapi juga di hati rakyat.
Sportivitas Lebih Penting dari Medali
Wabup Djoko, yang pagi itu tampil penuh wibawa sekaligus ramah, menyampaikan pidato yang lebih dalam dari lubang resapan dan lebih filosofis dari status mantan.
“Prestasi itu penting, tapi sportivitas lebih utama. Jangan sampai juara, tapi salaman aja lupa,” tegas beliau sambil senyum tipis tapi menohok.
Dengan kalimat berlapis makna, ia menanamkan bahwa menang itu oke, tapi kalah pun tetap keren asal jujur, tangguh, dan tidak curang. Karena, katanya, ini bukan sekadar lomba, tapi proses menempa karakter. Alias, latihan hidup versi mini.
Bonus Rahasia: Si Misteri Berhadiah
Nah, ini yang bikin anak-anak makin melek: soal bonus. Saat ditanya, Wabup malah jawab bak tokoh dalam film detektif:
“Bonus itu rahasia. Tapi tenang, dari saya pribadi. Bukan dari APBD.”
Duarrr! Kalimat ini langsung memancing tawa dan spekulasi. Katanya dari pribadi, tapi tetap misterius. Mau dalam bentuk amplop, piring cantik, atau selfie bareng? Entahlah. Yang jelas, ini jadi semacam plot twist yang bikin peserta makin semangat — setidaknya sampai tahu isi hadiahnya.
Kepsek SMAN 3: Tetap Waras Meski Deg-Degan
Dr. Moh. Edi Suyanto, M.Pd., Kepala SMAN 3 Jember, hadir dengan wajah tenang tapi penuh tekanan batin. Tapi beliau tetap optimis:
“Kontingen ini adalah representasi terbaik Jember. Kami percaya mereka bisa berikan yang terbaik. Yang penting sehat, fokus, dan jangan lupa minum air putih.”
Satu kalimat yang kalau ditulis di spanduk motivasi bisa jadi viral: “Tidak semua sekolah diberi kesempatan, jadi ini tanggung jawab, bukan jalan-jalan.”
Isu Sound Horeg & Tajemtra: Sentilan Halus Nan Nendang
Di tengah suasana penuh semangat, Wabup Djoko sempat menanggapi isu sound horeg—fenomena konser jalanan yang suaranya bisa bikin gorden rumah tetangga ikut bergoyang.
“Bupatinya bilang ‘APA’. Ya nggak mungkin di pemerintahan ini ada dua statemen, kan. Tanya aja ke beliau.”
Kalimat pendek yang tajam, sindiran santun ala pejabat kawakan. Bahasa satir tapi sopan. Kalau ini politik, maka ini adalah versi stand-up comedy yang tidak menertawakan, tapi mengingatkan.
Lalu soal Tajemtra (Tanjung–Jember Trail), beliau bilang:
“Doakan saya sehat. Kalau ikut 1-2 kilometer, kan nggak apa-apa. Yang penting semangatnya ikut finish.”
Ya, meski jalurnya ekstrem, tapi Wabup tetap menunjukkan dirinya tak sekadar duduk di kursi empuk, tapi juga ikut berlari — walau cuma dua kilo — demi rakyat dan kehormatan trail!

Refleksi ala Gareng dan Petruk
Dari lomba baris-berbaris sampai isu sound horeg, dari bonus misterius sampai trail penuh lumpur, semua memperlihatkan dinamika pemerintahan dan semangat kepemudaan di Jember. Wabup tampil bukan cuma sebagai pejabat, tapi sebagai sosok yang dekat, lugas, dan kadang nyerempet-nyerempet sindiran halus nan tajam.
Gareng Ngendiko:
“Yo wis lah, nek bonus e rahasia, semangat e ojo dirahasiakno. Niat e kudu tetep jujur, barisan kudu rapi, ora melu ngapusi!”
Petruk Nyambung:
“Sound horeg wae iso rame, masa semangat baris-barismu kalah sama speaker angkringan? Wani lurus, wani sportif, Jember iso juara!”
















