Jakarta – Di ruang dingin Senayan yang katanya tempat rakyat bersuara, justru terdengar bunyi gemeretak… bukan piring pecah, tapi suara hati para jurnalis yang mulai waswas. Gara-gara Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran yang lagi digodok Komisi I DPR RI, dunia jurnalistik jadi mendadak seperti main petak umpet: yang ngomong takut salah, yang diem malah dicurigai.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), Senin (5/5/2025), PWI, AJI, dan AVISI kompak bersuara. Tapi suara mereka ini bukan koor lagu daerah, melainkan jeritan halus yang penuh sindiran: “Jangan jadikan regulasi jadi palu godam buat kebebasan pers!”
Wartawan Bukannya Pengadu Domba, Tapi Jangan Diikat Lehernya
Ketua Umum PWI, Zulmansyah Sekedang, datang ke Senayan bukan buat minum kopi, tapi buat ngingetin: revisi UU Penyiaran jangan sampai nyaru jadi tameng sensor. “Kalau semua berita harus lolos sensor, itu bukan demokrasi, itu sinetron!” ujarnya, sambil didampingi Sekjen Wina Armada yang wajahnya udah kayak nahan tawa nonton acara politik malam-malam.
Zulmansyah bilang, Pasal 27, 35, dan 42 tuh bahaya. Yang satu bisa multitafsir, yang satu lagi nyuruh sensor konten tanpa kejelasan, yang terakhir malah ngasih negara hak cabut izin kayak narik SIM pas macet. “Kalo gitu mah, media bisa mati gaya!” katanya.

DPR: Kami Dengarkan, Tapi Jangan Berisik Dulu
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi I, Dave Laksono, bilang DPR nggak mau bikin aturan kaku. “Kita ini pengin atur, bukan ngatur-ngatur,” katanya dengan senyum setengah serius. Ia janji akan tampung semua masukan, biar UU-nya bisa ngikutin zaman, tapi nggak nginjak kebebasan.
Tapi netizen dan warganet pun tahu, antara “menampung masukan” dan “memasukkan ke tong sampah” itu beda tipis kalau sudah sampai meja Panja.
Kreator Digital: Jangan Sampai Kita Jadi Tukang Edit Buat Negara
AVISI dan AJI juga ikut ngomel halus. Kreator digital takut kreativitasnya dikebiri. “Kami bukan tukang sulap, masa semua harus dibenerin sesuai selera sensor?” kata perwakilan AVISI. AJI tambah bumbu, “Jurnalis bukan kriminal. Jangan sampai berita kritis dibilang pelanggaran siaran!”
Kondisinya ibarat sutradara disuruh bikin film, tapi ending-nya udah ditulis negara.
RUU Penyiaran: Niat Lindungi Rakyat, Tapi Kok Serem Buat Wartawan?
RUU ini katanya sih mau lindungi publik dari konten hoax, toxic, clickbait, dan drama gosip akut. Tapi masalahnya, siapa yang tentuin mana yang berbahaya? Negara? Atau lembaga sensor yang doyan nonton diam-diam?
Kalau salah langkah, bisa-bisa rakyat cuma boleh nonton berita yang isinya puji-puji. Macam siaran TV jadul yang isinya tepuk tangan tiap pejabat lewat.
Gareng: “Lha iki opo toh? Nyensor kata demi kata, kok rasane malah ngeri nonton berita!
**Petruk: Yo, Le! Kalo gitu terus, nanti wartawan cuma bisa nulis: ‘Hari ini semua baik-baik saja, semua bahagia, semua makan nasi padang gratis!’”
Akhirnya… Mikrofon Atau Moncong?
Revisi UU Penyiaran ini bisa jadi peluang emas—atau jebakan Batman—tergantung niat pembuatnya. Mau membela publik atau membungkam publikasi? Mau jaga etika atau jaga gengsi?
PWI udah bilang siap kasih masukan lagi. Tapi harap dicatat: rakyat juga punya mata, telinga, dan Google. Jangan sampe undang-undang malah bikin kita semua jadi bangsa pemirsa tanpa suara.
Karena pers yang bebas itu bukan musuh negara—justru penjaga akal sehat bangsa.
#MikrofonBukanMoncong #SensorBukanSolusi #RUUBukanMainan
















