Jember, garengpetruk.com – Pagi yang cerah mendadak muram di Dusun Krajan Kidul, Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji. Bukan karena harga cabai naik atau sinyal WiFi desa yang hilang, tapi geger oleh penemuan seorang lelaki tua tergeletak tak bernyawa di pinggir jalan. Yang bikin haru: beliau ditemani sepeda ontelnya yang setia, yang mungkin sudah puluhan tahun jadi saksi bisu perjuangan hidupnya.

Bukan hoaks, bukan prank. Bukan pula adegan sinetron sore. Lelaki malang itu ditemukan Senin pagi (5/5/2025), tepat di depan bengkel Rajawali, dekat Pasar Gladak Kudung—tempat di mana biasanya orang tawar-menawar harga teri, bukan harga nyawa.
Sepeda Ontel: Teman Sejati Sampai Mati
Korban, yang belakangan diketahui bernama Pak Solihin (60), adalah pejuang sejati dalam sunyi. Bukan pahlawan nasional, tapi pahlawan keluarga. Meski tubuh renta dan jantungnya sudah sering “nge-lag”, beliau tetap ngontel keliling demi sesuap nasi dan mungkin sebatang rokok klobot.
Namun nahas, napasnya terhenti di jalan perjuangan itu. Masyarakat menyaksikan beliau sempat berhenti, tampak ngos-ngosan, lalu rebah… dan tidak pernah bangun lagi. Tidak ada drama. Hanya kenyataan pahit dari negeri yang sering lupa pada orang-orang kecil yang sesungguhnya besar.

Prosedur: Dari Warga, Perangkat, Hingga Polisi
Laporan masuk ke Perangkat Desa, Pak Adam Hariyanto, yang langsung sigap ke lokasi. Tak lama, Bripka Bambang dari Polsek Rambipuji tiba. Pemeriksaan dilakukan, dan hasilnya: tidak ada tanda-tanda kekerasan, hanya tanda-tanda dunia yang keras. Pak Solihin didiagnosis meninggal karena penyakit jantung. Penyakit tua? Bisa jadi. Tapi lebih tua lagi sistem yang sering gagal memberi perlindungan sosial yang memadai bagi warganya.
Anak korban datang, mengikhlaskan, dan menolak visum. “Langsung pulang saja,” katanya. Karena mereka tahu, tak ada lagi yang bisa ditanya. Yang bisa dilakukan sekarang adalah menghormati, mendoakan, dan mengenang.

Sepeda Tua, Cermin Bangsa
Yanto, saudara korban, tahu bahwa itu sepeda milik Pak Solihin. Ia melihatnya di mobil polisi, dan merasa seperti melihat kenangan hidup dalam bentuk besi tua. Dari situ, ia menghubungi keluarga. Tak ada identitas, tak ada KTP. Mungkin karena hidup terlalu sibuk untuk mengurus administrasi, atau karena sistem terlalu sibuk untuk mendatangi yang tak bersuara.
Gareng & Petruk Menyela:
> Gareng: “Petruk, niki tragedi nopo parodi?”
Petruk: “Gareng, niki tragedi sing kelalen diperhatikan. Negara kakehan nyusun RUU, ning wong cilik sing ngontel malah lali diwoco.”
Sindiran Halus tapi Menyentil:
Di tengah gaduhnya pembahasan RUU yang “ngatur-ngatur”, ternyata ada rakyat yang mati tanpa suara. Sementara di Senayan, debatnya soal pasal, bukan soal nyawa.
Kita sibuk sensus digital, tapi masih ada rakyat yang meninggal tanpa identitas.
Kita bangga AI dan teknologi, tapi sepeda ontel tua masih jadi transportasi utama sebagian warga.
Pesan GarengPetruk:
“Mugo-mugo Rambipuji kelak dikenal bukan karena viralnya tragedi, tapi karena bangganya birokrasi yang sigap, pemimpinnya yang dekat, dan warganya yang sehat. Aamiin… ngontel nggowo sayur, ojo nganti nggowo layon.”
(Wito + Tim Redaksi Jember | garengpetruk.com – Tertawa sambil mikir, menangis sambil sadar)
















