Kapongan, Situbondo – 31 Mei 2025
Angin desas-desus berhembus dari timur Situbondo, tepatnya dari Puskesmas Kapongan. Katanya, ada pasien ditolak! Warga pun ramai, medsos terbakar, dan grup WhatsApp mendidih kayak air ketel kelamaan di kompor. Gareng Petruk, yang sedang ngelus-ngelus dompet kosongnya, langsung naik kuda besi (baca: motor kreditan) meluncur ke TKP.
Sampai di sana, Petruk disambut aroma kopi, senyum lelah, dan cerita penuh tanda tanya. Di teras puskesmas, Petruk bertemu dengan perawat berwajah manis dan berkumis tipis, Mas Norman namanya. Dengan tenang sambil nyeruput kopi sachet, ia menjelaskan:
> “Memang benar, tadi sore ada pasien datang sendiri naik motor bareng pengikutnya. Tapi kami sudah tangani sesuai SOP, terus kami arahkan ke rumah sakit karena rawat inap penuh. Lha masa kami suruh pasien tidur di belakang tempat kami ngopi? Kan malah bisa dibilang ditelantarkan juga.”
Gareng Petruk yang dari tadi diam, cuma bisa mengangguk-angguk sambil menahan tawa.
Ternyata, Puskesmas Kapongan hanya punya 5 kamar dengan 10 tempat tidur. Kalau sudah penuh, ya penuh. Nggak bisa ditambah dengan niat baik doang.
> “Kami ini, Mas, nggak pernah beda-bedain pasien. Mau datang naik Alphard atau naik sepeda ontel, pelayanan kami tetap sama. Tapi ya itu, kalau tempat tidur habis, kami juga bingung. Masa rawat pasien sambil duduk di pot bunga?” ujar Norman sambil ngipas-ngipas brosur imunisasi.
Sementara di ruangan lain, nakes lain, Mas Rofiki, nggak kalah blak-blakan:
> “CCTV nyala 24 jam. Kalau ada yang penasaran, yuk mari… kita tonton bareng sambil minum kopi. Gratis, nggak pakai karcis bioskop.”
Gareng Petruk makin penasaran. Ada apa gerangan? Kenapa setiap ada riak-riak kecil, yang diserbu selalu tenaga kesehatan yang udah kerja kayak robot kehabisan batre? Apa karena mereka nggak sempat main TikTok jadi nggak bisa klarifikasi langsung?
Tak lama, dari kejauhan, tampak sosok gondrong menghampiri. Ternyata dia Mukhsin al Fajar, Ketua DPC LSM Penjara Indonesia Situbondo, alias Mas Fajar Gondrong.
> “Kami sudah klarifikasi. Ruang rawat inap memang penuh. Tapi pelayanan tetap jalan. Jangan asal sebar isu yang bisa bikin masyarakat takut berobat dan bikin nakes stres sampai butuh nakes buat nakes,” ujarnya sambil meletakkan rokok di ujung telinga.
Mas Gondrong juga menyentil soal foto-foto yang viral di medsos:
> “Itu foto yang beredar bukan foto Puskesmas Kapongan. Hati-hati, foto salah, tuduhan ngawur, tapi efeknya kepercayaan publik bisa ambruk!”
Gareng Petruk, yang dari tadi duduk di kursi plastik warung sebelah, cuma bisa geleng-geleng sambil menghisap rokok kretek murahnya. Ia berkata lirih:
> “Kadang, bukan karena pelayanan buruk, tapi karena niat nyebar hoax lebih kenceng dari niat bantu klarifikasi. Dan yang jadi korban bukan cuma puskesmas, tapi warga yang butuh layanan medis mendadak jadi takut datang.”
Pesan Moral ala Petruk:
> Jangan cuma jago main forward, tapi malas cari tahu. Jangan-jangan yang viral bukan fakta, tapi hasil filter amarah. Dan jangan sampai tenaga kesehatan yang harusnya disayang, malah jadi sasaran tembak setiap kali ada salah paham.
Akhir kata dari Gareng Petruk:
Puskesmas itu bukan supermarket—kalau penuh, ya bukan berarti pelayanannya jelek, tapi memang kapasitasnya segitu. Dan nakes itu bukan superhero. Mereka juga manusia, bukan tukang sulap. Kalau tempat tidur habis, ya bukan berarti hatinya habis juga.
















