Jember, garengpetruk.com –
Pernikahan dini itu, kata Rhoma Irama, “bagus tiada tara…”
Tapi tunggu dulu, itu lagu, bukan data BPS!
Kabar menggembirakan datang dari ujung timur Pulau Jawa, tepatnya dari Kabupaten Jember. Daerah yang dulu sering jadi langganan ranking satu dalam “Liga Anak Kawin Cepat” kini malah turun kelas. Tapi kali ini turunnya bikin tepuk tangan, bukan tepok jidat!
Dulu tahun 2023, Jember duduk manis di singgasana sebagai juara bertahan pernikahan anak se-Jatim, dengan skor fantastis: 1300 perkawinan dini!
Tapi di tahun 2024? Angkanya jeblok ke 533 kasus saja. Turun drastis, cuy! Dan anehnya, kali ini kita bersyukur kalau angka justru kecil.
“Alhamdulillah sekarang kami hanya masuk 10 besar. Urutan ke-5,” ujar Yudi Nugroho, Plt UPTD PPA Jember, sambil senyum seperti habis lepas dari utang koperasi.
Bukan Prestasi Kaleng-Kaleng
Turunnya angka ini bukan karena anak-anak Jember lagi sibuk main TikTok atau ngejar cuan dari jualan kopi di marketplace. Tapi ini buah dari kerja bareng lintas sektor: dari ibu-ibu Muslimat dan Fatayat, sampai bapak-bapak KUA dan kiai kampung. Katanya, para ulama sudah sepakat enggak akan datang ke hajatan nikah bocil.
“Kalau anak umur 15 tahun kawin, ulama-nya kabur. Yang datang cuma MC dan tukang sound system,” celetuk seorang warga yang enggan disebut namanya karena belum menikah juga.

PPA Award dan Gengsi Sejati
Dengan hasil yang aduhai itu, Jember kini melenggang ke nominasi PPA Award, ajang penghargaan anti kawin bocah dari DP3AK Provinsi Jawa Timur.
> “Ini semacam Oscar-nya perlindungan anak, minus red carpet,” ujar Yudi, dengan nada bangga dan rambut klimis rapi.
Tapi… Dispensasi Masih Banyak Dipesan
Nah, walaupun angka menurun, dispensasi nikah dini tetap laris manis kayak kopi susu kekinian. Cuma bedanya, sekarang harus pakai prosedur panjang: mulai dari rekomendasi KUA, cek kesehatan di puskesmas, hingga konseling mental dan psikologis.
> “Intinya, sekarang hamil duluan nggak bisa langsung nikah. Harus nunggu izin hakim. Dan hakimnya juga enggak bisa dikasih amplop nasi kotak,” kata Yudi, setengah serius.
Kalau dipikir-pikir, Indonesia ini memang unik. Mau bikin SIM aja susah, tapi mau kawin bisa cepat. Untungnya sekarang Jember sudah sadar: anak itu bukan untuk dikawinkan, tapi dididik, disayang, dan dikasih cita-cita.
Gareng Berkata:
> “Kawin itu bukan solusi kalau hidup masih galau. Apalagi kalau belum bisa beli gas elpiji sendiri. Kawin dini itu kayak nge-print skripsi pakai tinta palsu—kelar sih, tapi cepet luntur!”
—
Makanya, wahai pemuda-pemudi Jember: Cinta boleh mekar, tapi jangan buru-buru bikin undangan. Masa depan itu perlu disiapkan, bukan diakalin pakai alasan ‘kecelakaan’!
Karena sejatinya, pernikahan itu bukan pelarian, tapi perjalanan. Dan anak-anak kita pantas mendapatkan masa depan yang lebih panjang dari usia resepsi semalam.
Salam kritis, manis, dan jenaka dari redaksi garengpetruk.com.















