TANGGUL – Di saat jalan tol dibikin secepat mobil F1 dan rest area dibangun kayak kafe Korea, ternyata masih ada rakyat jelata yang kakinya lebih dulu nyampe kantor daripada motornya. Itu pun setelah jungkir balik melewati jalanan batu segede-gede kepala mantan yang susah move on.
Dusun Sungai Tengah, Desa Manggisan, dan Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, bukan lokasi syuting film “Petualangan Sherina”, tapi realita getir 350 Kepala Keluarga yang sejak zaman kolonial hingga zaman digital, belum pernah nyicipin empuknya aspal.

🏚️ Jalan Poros: Bukan Poros, Tapi Porak-Poranda
Bayangkan jalan 6,5 KM yang katanya poros vital, tapi lebih cocok buat uji nyali daripada uji SIM. Di musim kemarau, batunya bikin shockbreaker pensiun dini. Di musim hujan, licinnya bikin sepeda motor lebih banyak jalan mundur daripada maju.
Yang lewat jalan ini bukan cuma truk atau bajaj eksperimen, tapi juga anak-anak yang mau sekolah. Cita-cita mereka tinggi, tapi lutut mereka sering rendah karena terpeleset. Katanya mau mencerdaskan bangsa, tapi jalannya malah mencelakakan generasi.

💬 Curhat Kepala Desa: Proposalnya Jalan, Aspalnya Nggak
Pak Holili, Kepala Desa Manggisan, sudah ngirim proposal ke Kementerian PUPR sejak setahun lalu. Tapi kayaknya proposal itu dikira spam, belum dibuka sampai sekarang.
“Kami butuh Rp 2 Milyar untuk jalan dan jembatan. Bukan buat bikin kantor mewah, tapi buat nyambung kehidupan warga,” kata Holili sambil menatap harapan yang mulai pudar kayak marka jalan di hatinya.
Tapi tenang, Pak, mungkin proposalnya nyangkut di jalan yang belum diaspal juga. Atau tersesat di labirin birokrasi yang lebih ruwet dari benang kusut di tempat jahit.
🧓 Rakyat Bicara: Jalan Kami Adalah Pusaka Kolonial
Pak Nazar, tokoh masyarakat setempat, bilang bahwa jalan ini belum pernah disapa aspal sejak zaman Belanda. Kalau ada lomba nasional “Jalan Paling Konsisten Tak Tersentuh”, dusun ini pasti masuk nominasi.
“Jaman sudah digital, tapi kami masih digitalin motor kami karena sering rusak,” kata beliau, sambil memegang sandal jepit yang jadi korban lubang jalan.
📌 Sindiran Lembut: Infrastruktur Kami Adalah Cerita Lama yang Tak Selesai
Negara ini punya anggaran ratusan triliun, tapi kenapa sepotong jalan kecil seperti ini terasa seperti doa yang tak kunjung dijawab? Di kota, flyover menjulang, lampu taman menyala 24 jam. Di dusun? Lampu hati rakyat masih berkedip-kedip mencari keadilan.
Mereka bukan minta jembatan ke bulan. Cuma jalan yang nggak bikin anak sekolah mirip pejuang kemerdekaan. Cuma aspal, bukan emas. Tapi kenapa sulit sekali?
🌱 Gareng & Petruk Menyimpulkan:
> “Di negeri yang katanya adil makmur, masih ada jalan yang bikin rakyat maki-maki sambil menahan sakit pinggang. Kalau pembangunan adalah hak setiap warga, kenapa jalannya masih harus diperjuangkan kayak tanah sengketa?”
Jalan ini mungkin cuma 6,5 kilometer. Tapi penderitaan rakyatnya sudah menempuh jarak sejarah. Dari zaman kolonial, lewat reformasi, sampai zaman “Presiden ke-8”, ternyata rakyat masih harus berdoa agar roda motornya nggak lepas di tengah jalan.
—
Penutup oleh Petruk:
“Kalau jalan ini bisa ngomong, dia pasti bilang: ‘Aku bukan jalan, aku luka. Dan rakyat adalah pejalan yang tak pernah berhenti meski tak tahu kapan disembuhkan.’”
—
Editor: Gareng, yang kalau lewat situ pasti ganti celana tiap 500 meter.
Penulis: Sohehudin, saksi hidup antara batu dan ban tubeless.
















