Situbondo, kota santri, mendadak jadi kota sensasi. Bukan karena ada kirab wali atau haul besar, tapi karena satu hal: Gareng Petruk menyamar jadi dagang bakwan!
Iya, Gareng Petruk, tokoh legendaris dari dunia pewayangan yang biasanya nyindir raja dan menteri, kini pegang gorengan. Dari bakwan sampai tempe mendoan, ia keliling kota sambil nyamar, bukan buat nyari cuan, tapi buat nyari kebenaran.
Dalam sepekan terakhir, Gareng ngider keliling Situbondo, bukan naik kuda sembrani, tapi dorong gerobak sambil teriak,
> “Bakwaaan panas, kayak isu korupsi yang belum kelar-kelar!”
Tiga titik panas alias ‘zona nyebul’ jadi tempat Gareng mangkal:
1. Warung Pak Songot, di depan kantor DPRD. Warung ini bukan warung biasa. Ini tempat elite! Di sinilah para jurnalis, LSM, dan pengamat anggaran minum kopi sambil nyusun skenario investigasi.
2. Jalan Seroja, tempat nongkrongnya pengulas anggaran desa. Katanya, dari obrolan receh bisa jadi laporan yang bikin kepala desa susah tidur.
3. Pertigaan Burnik, yang kini katanya “naik kelas”. Entah kelas apa, tapi yang jelas bukan kelas yoga.
Gareng menguping. Telinganya panas, kayak kabel listrik kelebihan beban.
Ada wartawan yang bilang,
> “Istriku gak nanya berita apa yang kutulis, tapi nanya: Mas, uang belanjanya mana?”
Sontak, Gareng geli campur sedih. Wartawan lokal, tulisannya viral, tapi isi dapurnya ngalor-ngidul. Ia pun iseng tetesin air lombok ke telinga, katanya biar berita panas gak bikin telinga mendidih.
Tapi bukan Gareng namanya kalau gak punya pesan. Ia senang: Situbondo ramai dengan “pengepul berita”. Ini pertanda baik. Para “maling berdasi” gak bisa sembunyi. Baru ngangguk-ngangguk tanda setuju anggaran, sudah ada yang ngintip dari balik gelas kopi.
Namun kegembiraan Gareng gak lama. Ia dengar desas-desus:
> “Kasus korupsi kok nambah, bukan malah habis?”
Akhirnya, Gareng naik ke Gunung Putri Tidur. Bawa dupa, kembang tujuh rupa, dan niat bertapa. Tujuannya satu: membangunkan APH yang tidur!
> “Halo APH, ini bukan kasur terapi, ini Situbondo. Bangun dong!”
Ia termenung di puncak gunung, menatap awan, sambil merenung:
> Seberapa besar cintanya bupati dan wakil bupati kepada rakyatnya? Kenapa korupsi masih lari-lari bebas seperti bocah main petak umpet? Dan wakil rakyat, cintamu itu nyata atau hanya pas mau nyaleg aja?
Gareng ingin semua sadar. Bahwa kepercayaan rakyat itu bukan warisan, tapi harus dijaga. Kalau APH tidur terus, yang bangun bukan harapan, tapi kemarahan.
Sebelum mulai tapa brata, Gareng sempat mules. Entah karena bakwan kadaluarsa atau terlalu banyak berita busuk. Ia buang gas—katanya sih bukan sembarang kentut, tapi “aroma kebenaran” buat para penikmat hoaks dan pembungkam suara rakyat.
Pesan terakhirnya sebelum ngilang di balik kabut:
> “Wahai para pengepul berita, teruslah menulis walau beras di dapur tinggal harapan. Karena mungkin kebenaran lahir bukan dari meja kekuasaan, tapi dari warung kopi dan gerobak bakwan.”
—
Situbondo, tetap santri, tapi jangan hanya jubahnya. Jujur, adil, dan berani juga harus jadi cirinya.
Gareng Petruk, dagang bakwan yang lebih tajam dari audit BPK.
















