Rambipuji, garengpetruk.com –
Kalau biasanya hari Senin di SDN Rambigundam 02 itu isinya upacara, sambutan kepala sekolah, dan anak ngantuk dengerin tata tertib, kali ini beda. Tanggal 17 Juni 2025 berubah jadi panggung bahagia penuh air mata, gegara acara Pentas Seni dan Shalawatan dalam rangka kelulusan kelas 6.
Acara dibuka jam 06.30 WIB pakai drumband kece dari bocah-bocah SD yang meski mungil tapi gebukannya mantap, bikin warga langsung bangun walau belum ngopi. Lanjut jam 08.00 WIB, pentas seni dimulai—ada tari-tarian, puisi, sampe pantomim, yang bahkan bikin tukang cilok lupa nyambel.
Dan puncaknya? Malam harinya, bukan konser dangdut, tapi Shalawatan bareng Masbro dari Pondok An-Nur, bikin hati adem meski cuaca masih panas. Sekitar 170 orang hadir: murid, guru, wali murid, masyarakat, dan beberapa mantan gebetan yang ikut nimbrung pura-pura jadi “undangan”.
Ustad Syamsuri: Terima Kasih, dari Hati yang Dalam (dan Dompet yang Aman)
Perwakilan wali murid, Ustad Syamsuri, dalam pidatonya ngaku senang banget. Katanya, guru-guru itu bukan cuma ngajarin baca tulis, tapi juga ngajarin sabar luar biasa. Bahkan, sampe bantuin daftar ke SMP, padahal daftar sendiri aja kadang bingung.
“Anak-anak seneng, meski hatinya nelangsa, karena lulus berarti pisah. Tapi pentas ini jadi semacam kenang-kenangan yang bisa disimpan… meski nggak bisa di-frame kayak ijazah,” ucap Ustad Syamsuri sambil senyum sendu.
Jessika: “Sedih Tapi Senang, Kayak Lihat TikTok Mantan”
Jessika, siswi kelas 6 yang jadi penari pentas, juga nggak mau ketinggalan ngomong. Katanya, ini momen paling membekas—seperti odol yang ditekan sampe abis. Senang bisa tampil, tapi sedih harus pisah sama guru-guru.
“Untung ada acara ini, jadi bisa punya kenang-kenangan yang bisa diceritain ke anak cucu… ya kalau ketemu jodohnya dulu sih,” ujar Jessika sambil ngelirik temennya yang lagi nahan nangis.

Bu Kepsek: “Kami Kayak Tamu, Semua Sudah Diatur Wali Murid”
Siti Sarohma, kepala sekolah, juga terharu. Awalnya mau tasyakuran kecil-kecilan aja. Eh, wali murid dan komite sekolah malah ambil alih panggung, kayak EO profesional. Bahkan tempat acara bukan di sekolah, tapi di jalan depan sekolah, biar semua bisa nonton—dari tetangga sampai tukang ketoprak.
“Kami tahu ada arahan jangan sampai acara perpisahan jadi beban. Tapi ini malah jadi berkah, karena pedagang kecil, UMKM, semua ikutan laris manis. Sekolah malah jadi kayak tamu kehormatan,” jelas Bu Siti sambil senyum bahagia.

Gareng Berkata:
> “Perpisahan itu kayak kembang api,
Indah, terang, tapi sebentar lagi mati.
Tapi kalau dikenang dengan pentas dan shalawat,
Maka cahaya kenangan akan tetap hangat.”
Acara ini bukan cuma tentang lulus sekolah, tapi juga lulus dari pelajaran hidup—tentang kerja sama, kebersamaan, dan cinta dalam bentuk pentas seni dan doa. Jadi kalau tahun depan ada yang bilang, “Perpisahan bikin nangis,” tolong bedakan: nangis karena sedih, atau karena cilok-nya pedes.
#GarengPetruk
#PentasBukanPentas-Pentasan
#LulusBersamaKenangan
#RambigundamMelelehkan















