Bombana, Harian Nasional Gareng Petruk – Safari politik calon Bupati Bombana nomor urut 1, Ir. H. Burhanuddin, M.Si, di Kepulauan Kabaena sepertinya membuat beberapa pihak panas dingin. Bagaimana tidak? Dengan gayanya yang santai tapi telak, Burhanuddin mengkritik habis-habisan kondisi Kabaena yang menurutnya sudah terlalu lama dianak-tirikan oleh pemerintah sebelumnya. Sambil tersenyum, ia menyebut Kabaena sebagai “dompet Indonesia.” Ya, dompet besar yang tebal, tapi sayangnya isinya cuma dilihat, tak diambil untuk pembangunan.
“Kabaena itu pusat duitnya Bombana, sumber keuangan negara ada di sini. Tapi aneh, kok malah dianak-tirikan?” kata Burhanuddin sambil melirik tajam seolah-olah ingin menyinggung seseorang. Siapa ya kira-kira? Hmm, mungkin paslon nomor urut 2 dan 3, yang selama ini masih sibuk dengan pencitraan di daratan?
Paslon “Janji Manis” dan “Dinasti Antah Berantah”
Masyarakat Kabaena yang mendengar orasi Burhanuddin pasti langsung mengangguk setuju. Selama bertahun-tahun, janji pembangunan hanya jadi bahan obrolan warung kopi, sementara jalan-jalan tetap berlubang, dan listrik masih suka ngadat. Lho, ke mana aja nih paslon 2 dan 3 yang katanya mau bikin perubahan?
Paslon nomor urut 2, yang kita panggil saja Tim Janji Manis, tampaknya masih sibuk memoles citra mereka yang kinclong di poster-poster pinggir jalan. Mungkin mereka lupa kalau janji tak bisa dimakan. Sedangkan nomor urut 3, alias Dinasti Antah Berantah, tampaknya masih nyaman duduk di kursi keluarga besar, menikmati secangkir teh politik sambil terus berharap Bombana tetap jadi negeri dongeng yang dikuasai satu klan. Hati-hati, dongeng bisa berubah jadi mimpi buruk lho, kalau rakyat sudah bosan.
Kabaena: Duit Ada, Perhatian Kagak!
Dengan nada penuh keprihatinan, Burhanuddin mengatakan bahwa Kabaena, yang jadi kontributor terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bombana, sudah lama dipinggirkan. “Kita punya duit, tapi masa sih dianak-tirikan terus?” katanya. Nah, ini sindiran yang tajam! Buat apa punya duit kalau nggak dipakai buat bangun daerah? Ya, uang rakyat kok malah ngendap di dompet orang lain?
Burhanuddin pun mengajak warga Kabaena untuk mendukungnya. Bukan karena janji manis, tapi karena keseriusannya untuk membangun Bombana, khususnya Kabaena. “Saya siap mewakafkan sisa hidup saya demi pembangunan Bombana,” tegasnya. Wah, yang lain siap nggak nih mewakafkan waktu dan tenaga, atau cuma mewakafkan spanduk?

Dukungan dari Sang Pengawal Janji
Ketua DPRD Bombana 2024-2029, Iskandar SP, yang juga putra asli Kabaena, sudah angkat bicara. “Saya sendiri yang akan menagih seluruh janji Burhanuddin untuk Kabaena,” ujarnya dengan tegas. Kalau sudah ada yang jaga janji begini, hati-hati buat yang suka janji kosong!
Menariknya, Iskandar menambahkan bahwa dirinya belum pernah ikut safari politik calon bupati manapun sebelumnya. Tapi kali ini, dia yakin bahwa Burhanuddin bisa membawa perubahan yang sesungguhnya. Wah, kalau sudah begini, paslon lain kayaknya harus segera bikin gerakan janji tepati atau minimal, jangan lupa bikin catatan janji politik.
Dinasti Politik: Sudah Waktunya Berakhir?
Bukan hanya Iskandar, politisi senior H. Abustam dari Partai Gerindra pun ikut mendukung Burhanuddin. Dia dengan lantang menegaskan bahwa jika dinasti politik ini terus dibiarkan, Bombana akan menjadi “negeri antah berantah.” Nah, lho, buat para dinasti politik, sudah siap turun panggung belum? H. Abustam tampaknya sudah cukup lama melihat bagaimana Bombana dikuasai oleh segelintir orang. Makanya, dia garansi untuk wilayah Poleang bahwa “Insyaallah, kita menang.”

Safari politik Burhanuddin di Kabaena ini jelas membawa warna baru. Dengan dukungan dari berbagai kalangan, baik masyarakat maupun elite politik setempat, Burhanuddin tampaknya siap menggoyang dinasti politik yang sudah terlalu lama bercokol. Mungkin ini waktunya paslon lain mulai mikirin rencana cadangan, ya. Daripada terus-terusan bersembunyi di balik bayang-bayang dinasti dan janji manis.
Harian Nasional Gareng Petruk – Di mana janji politik dikuliti, sindiran jadi hiburan, dan politik jadi lebih ringan dicerna.















