Situbondo — Di kaki Gunung Ringgit, tepatnya di Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, jalur Pantura mendadak ramai. Bukan karena konser dangdut, bukan pula pembagian sembako. Tapi karena ada drama lapangan—bukan sepak bola, tapi saling klaim tanah benur. Tanggal 16 Juni 2025 jadi saksi sejarah perebutan lahan yang lebih panas dari gorengan sore hari.
Warga sekitar awalnya mengira ada razia benur ilegal atau polisi tangkap tuyul. Eh, ternyata cuma drama klasik antara “yang ngaku punya” dan “yang merasa lebih punya”, lengkap dengan sertifikat, gembok, dan teriakan penuh amarah.

Panggung Dimulai: “Keluar Semua dari Lahan Ini!”
Adalah Yongky, warga Kilensari Panarukan, yang datang dengan wajah murka dan gembok di tangan. Seperti juru kunci film horor, dia menggembok semua pintu kamar di lahan benur yang diklaimnya sebagai milik warisan.
> “Siapapun yang ada di dalam lahan ini, harus keluar!” teriak Yongky, sambil memeluk erat selembar kertas sakti bernama sertifikat.
Sementara warga sekitar malah asyik ngerekam pakai HP, sambil jualan kopi saset dadakan. Situasi makin dramatis saat mobil misterius dari arah barat masuk. Turunlah seorang pemuda tanggung bergaya bos dan seorang wanita yang diyakini sebagai ibunya.
Begitu turun, pemuda itu langsung menginstruksikan “BONGKAR!” kepada anak buahnya—suara yang menggetarkan langit mendung dan hati yang was-was. Gembok pun dipreteli seperti bukan milik siapa-siapa.
Tiga Pilar Muncul, Entah Siapa yang Manggil
Tiba-tiba Tiga Pilar datang—Lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, semua lengkap kayak lomba 17 Agustus. Entah siapa yang nelpon, tapi mereka hadir secepat kurir ekspedisi. Sayangnya, mereka pun cuma bisa jadi penonton sambil ngelus dada dan nyimak.
Yongky yang tak terima gemboknya dibongkar, segera meluncur ke Mapolres Situbondo. Dengan penuh gaya, ia membawa sertifikat sambil merekam aksi pembongkaran ala sinetron itu. Bukti sudah ditangan, polisi tinggal pilih: percaya pada kertas atau kekuasaan lisan.

Gareng Berkata:
> “Tanah memang diam,
Tapi manusia bisa ribut sampe langit hitam.
Kalau hati tak lapang,
Sertifikat pun jadi senjata, bukan pegangan.”
Tanah itu rezeki, tapi kalau rebutannya seperti adu gladiator tanpa aturan, ya ujungnya bukan untung tapi saling lapor, saling emosi, dan mungkin saling doakan yang jelek-jelek.
Catatan Gareng:
> Wahai yang merasa ahli waris dan yang merasa sudah mengelola,
Ingatlah, lahan bisa digarap,
Tapi nafsu jangan ditanam terlalu dalam.
Sertifikat itu bukan kitab suci,
Tapi jangan pula disepelekan.
Kalau benar, tempuh jalur hukum,
Jangan pakai gembok atau jari telunjuk yang galak.
#GarengPetruk
#SengketaBukanSinetron
#BenurBikinBingung
#TanahUntukTumbuhBukanUntukRebutan
















