JEMBER – Ndilalah, tahun ini jamaah haji asal Kabupaten Jember yang jumlahnya sampe 2260 wong, ora meneh dikumpulno di Alun-Alun Jember seperti biasanya. Tapi, mendadak hijrah ke Kecamatan Tanggul. Alasannya? Bukan karena macet, bukan karena Alun-Alun-nya bocor, tapi… karena wejangan Kyai: “Wong barat, ojo bali ngetan maneh.” Halah, masuk akal juga sih, meski terdengar seperti strategi lalu lintas versi pesantren.

“Supaya jamaah haji yang dari barat, tidak perlu kembali ke barat lagi,” ujar Bupati Jember, Gus Muhammad Fawait, sambil ngelirik ke arah barat yang katanya penuh harapan. Hmmm… berarti jangan-jangan ini bagian dari rencana pemekaran wilayah Jember jadi Makkah kecil?
Acara pelepasan jamaah haji digelar meriah di GOR PKPSO Kaliwates. Bukan di stadion, bukan di terminal, tapi di tempat adem biar nggak bikin jamaah kepanasan. “Kita siapkan tempat yang sejuk, karena kalau kepanasan nanti khusyuknya hilang, yang ada malah pengen beli es kelapa muda,” ujar Gus Fawait, yang mendampingi Wakil Bupati, Forkopimda, MUI, LDII, Kemenag, PCNU Kencong, dan PCNU Jember. Wes komplit, tinggal ngundang grup rebana karo penjual tahu bulat.
Ternyata, yang daftar haji bukan cuma 2260 itu aja. Masih ada 120 orang cadangan, yang udah lunas tapi masih nunggu giliran, kata Kepala Kemenag Jember, Dr. Santoso. Ini cadangan apa pemain sepak bola, pak? Tapi jangan salah, mereka juga siap berangkat. Kalau tiba-tiba ada yang batal karena ketinggalan paspor atau kelupaan bawa koper, langsung bisa ganti pemain!

Pemberangkatan dimulai tanggal 10 Mei untuk kloter 31 sampai 35. Sementara kloter 36, kayak anak bungsu yang ditinggal tidur dulu, berangkat 15 Mei. “Setiap kloter ada pendampingnya,” tutup Dr. Santoso. Semoga pendampingnya bukan cuma buat ngingetin doa, tapi juga buat nyari sandal yang ilang waktu jamaah lagi mleyot-mleyot di Masjidil Haram.
—
Catatan Gareng: Pindah lokasi dari Alun-Alun ke Tanggul itu bukan sekadar logistik, tapi simbol… bahwa kadang hidup ini harus tahu arah. Wong barat, ya jangan disuruh ke timur cuma demi formalitas. Wong haji itu ibadah, bukan lomba jalan sehat. Salut buat para Kyai yang mikirnya logis tapi tetap spiritual. Cuma ya tolong, lain kali kalau ada perubahan, kasih tahu rakyatnya sejak awal, biar ndak kaget pas lihat bis haji ngetem di sawah.

Yowes, selamat berangkat para calon tamu Allah. Semoga pulang membawa haji mabrur, dan oleh-oleh yang bukan cuma air zamzam tapi juga semangat sabar, tertib, dan tidak main serobot antrean pas ngurus surat tanah.















