Gareng:
Wong cilik zaman now kalau denger kata metafisika, langsung mikir: “Wah, ini pasti ilmu-ilmu mistik, mbah dukun, bakar kemenyan sambil komat-kamit!” Padahal, metafisika itu bukan cuma urusan jin buang anak atau tuyul cari sinyal. Ini urusan serius, Bos! Ini soal yang tidak kelihatan tapi ngatur segalanya! Kayak kebijakan pemerintah yang katanya pro-rakyat, tapi kenyataannya rakyat disuruh puasa data tiap tanggal tua.
Petruk:
Betul, Le Gareng. Di negeri ini, metafisika udah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari kampanye politik sampai proyek pembangunan, semuanya ada unsur gaib-gaibnya. Lihat saja—kalau ada pemimpin baru dilantik, pasti langsung cari orang pintar. Bukan buat belajar ekonomi, tapi buat pasang pager gaib, biar oposisi nggak bisa nyantet!
Gareng:
Dan hebatnya lagi, negara kita ini udah kaya spiritual center. Ada pejabat yang doyan meditasi di gunung, ada yang tiap malam Jumat ngundang ustaz sakti buat doain APBN-nya lancar. Ada juga yang percaya kalau rapat kabinet harus dimulai dengan bakar menyan dan kasih bunga tujuh rupa, biar keputusan politiknya nggak kerasukan “setan korupsi”.
Petruk:
Kita tuh unik, Rek. Saking metafisiknya negeri ini, kadang hukum positif kalah sama hukum karma. Lho kok bisa? Ya bisa lah, wong banyak koruptor yang santai ngopi-ngopi di Bali, tapi rakyat yang nyolong sandal bisa viral dan dihujat tujuh turunan. Logikanya di dunia nyata kalah telak sama logika alam gaib!
Gareng:
Tapi, tunggu dulu, Bro Petruk. Jangan salah paham. Metafisika itu bukan buat ditertawakan semata. Ia adalah filosofi mendalam tentang hakikat eksistensi. Nah, pertanyaannya: apa eksistensi rakyat itu penting di mata negara? Atau rakyat cuma jadi wujud metafisik—dianggap ada, tapi tidak pernah dilihat?
Petruk:
Wih, dalem banget, Le! Bisa jadi rakyat itu cuma semacam ide platonik, hanya eksis di baliho dan kampanye, tapi lenyap saat anggaran cair. Makanya, di republik ini, pemimpin kadang lebih percaya jimat daripada jurnal, lebih seneng rapal mantra daripada rapat paripurna.
Gareng:
Betul, makanya program-program negara kita banyak yang “metafisik”. Lihat aja: Program Pengentasan Kemiskinan—ga kelihatan hasilnya, tapi tiap tahun anggarannya muncul! Ketahanan Pangan—beras makin langka, tapi katanya cadangan aman! Ini bukan logika manusia biasa, Bro. Ini udah level logika dimensi keempat!
Petruk:
Dan jangan lupakan yang paling sakti: Pembangunan Berbasis Visi-Misi Gaib. Rakyat bingung, visi siapa? Misi ke mana? Tapi proyek jalan tol tembus hutan keramat tetap lanjut. Alasannya? “Demi konektivitas antardimensi,” katanya.
Gareng:
Akhirnya, dunia metafisika ini jadi lumbung harapan rakyat kecil. Ketika kebijakan negara tak kunjung menyentuh perut, rakyat pun mencari solusi dari langit: wirid 40 hari, tirakat mutih, sampai mimpi ketemu Presiden pake sorban. Karena bagi mereka, metafisika lebih menjanjikan dari musyawarah DPR!
Petruk:
Tapi ya Gareng, kita nggak boleh sepenuhnya nyinyir. Barangkali, metafisika itu jadi simbol bahwa rakyat Indonesia masih punya harapan—meski tak kasat mata. Harapan bahwa keadilan, kesejahteraan, dan pemimpin yang bijak pasti akan datang, entah dari dunia nyata… atau dari dunia sebelah.
Gareng:
Nah, itulah keindahan bangsa kita. Negeri ini bisa hidup di dua dunia sekaligus—realitas dan spiritualitas, APBN dan aura, pemilu dan primbon. Jadi kalau kamu gagal jadi pejabat karena tak punya partai, jangan khawatir. Siapkan saja keris warisan, rajah sakti, dan guru kebatinan. Siapa tahu, karma politik segera datang menjemput.
Petruk:
Akhir kata, ingat ya, Lur…
Kalau hidupmu terasa tak adil, jangan langsung menyalahkan pemerintah.
Barangkali… chakra-mu belum seimbang!
Gareng & Petruk,
Dua makhluk semi-metafisik, masih setia jadi rakyat biasa.
















