Gareng:
Coba tanya warga kampung dari Sabang sampai Merauke, “Apa dasar negara kita?” Pasti dengan lantang menjawab: Pancasila! Tapi begitu ditanya, “Sila keempat isinya apa?” Langsung pada mingkem, ngelirik Google, atau jawab: “Yang penting makan sila ketiga dulu, Kang!”
Petruk:
Waduh, Le Gareng, memang begitu kenyataannya. Pancasila itu udah kayak resep rahasia negara, dihafal waktu upacara, tapi dilupakan saat rebutan proyek. Katanya “Persatuan Indonesia”, tapi nyalon RW aja bisa bawa tim sukses pakai spanduk dan doorprize minyak goreng. Emangnya ini Pemilu atau arisan emak-emak?
Gareng:
Itulah lucunya, Bro! Pancasila katanya jadi jiwa bangsa, tapi sering disimpan di lemari kaca, ditaruh di belakang podium, dibacakan dengan nada khidmat, tapi maknanya minggat. Kita ini kadang kayak orang yang ngaku cinta, tapi tiap malam minggat ke tempat karaoke yang full lampu disko!
Petruk:
Yang paling gokil itu waktu denger pidato pejabat:
“Dengan semangat Pancasila, mari kita tingkatkan integritas dan kejujuran!”
Eh, pas turun panggung, malah ngobrolin fee proyek.
Katanya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, tapi buruh disuruh lembur sampe jam 11 malam dengan upah lembur setengah nasi padang!
Gareng:
Sila ketiga “Persatuan Indonesia” pun kadang jadi bahan stand up comedy. Lho kok bisa?
Ya, rakyat disuruh bersatu, tapi elite politik malah sibuk belah-belah kursi kekuasaan.
Persatuan? Iya… asal satu kelompok aja yang menang tender. Kelompok lain disuruh bersatu… dalam diam.
Petruk:
Sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”
Asli, panjang banget kalimatnya! Tapi isinya? Kadang permusyawaratan cuma formalitas buat syarat zoom meeting,
perwakilan rakyat sibuk live TikTok sambil endorse vitamin,
dan hikmat kebijaksanaan?
Mungkin udah pensiun sejak zaman Majapahit.
Gareng:
Lanjut ke sila kelima nih, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
Ini sih kayak sinetron Indosiar: ada, tapi terlalu dramatis buat dirasakan.
Yang kaya makin banyak aset, yang miskin makin banyak azet—alias azek-azekan tiap tanggal tua!
Harga cabai naik, BPJS antre, dan petani teriak “di mana keadilan?”
Eh, jawabannya cuma: “Sabar ya, sedang kita proses lewat rapat komisi.”
Petruk:
Tapi, meskipun Pancasila sering jadi bahan meme dan candaan rakyat,
jangan salah, justru dari tawa-tawa itu lahir kesadaran.
Bahwa Pancasila itu bukan cuma hafalan, tapi harapan.
Harapan bahwa suatu hari nanti, sila-sila itu bisa turun gunung dari buku cetak,
dan benar-benar duduk bareng rakyat di warung kopi, di ladang petani, di pabrik buruh, dan di meja makan keluarga miskin.
Gareng:
Iya, Le. Rakyat itu udah cerdas, udah paham mana yang ngomong dan mana yang ngelakuin.
Rakyat bisa tertawa, tapi bukan karena bahagia—tapi karena lelah.
Lelah melihat Pancasila dijadikan alat pidato, bukan panduan hidup.
Petruk:
Maka, kalau kalian para pemimpin masih bangga menyebut diri pengamal Pancasila sejati, cobalah nongkrong barang sejam di pos ronda.
Dengerin tawa rakyat.
Karena di balik tawa itu… ada tangis yang sedang menyamar.
Gareng & Petruk,
Pancasilais garis tawa, bukan garis keras.
Ketika negara terlalu serius, biarlah rakyat yang menertawakannya… demi tetap waras.















