MAGETAN, garengpetruk.com – Malam itu langit Magetan mendung, tapi suasana di Pendopo Surya Graha malah mendungnya dobel—bukan karena cuaca, tapi karena luka dan duka bertumpuk seperti gorengan pas buka puasa. Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah, turun langsung dari menara kekuasaan membawa pelukan hangat dan amplop santunan buat korban kecelakaan kereta api di perlintasan Mangge. Bukan amplop kosong lho, ini bukan masa kampanye.
Kecelakaan tragis itu seperti adegan sinetron: mendebarkan, menyayat hati, dan meninggalkan PR panjang. Namun, yang bikin sejuk di hati adalah langkah cepat ala Fast & Furious dari Polres Magetan. “Terima kasih Pak Kapolres, sampeyan responsif, kayak chat WA yang centang biru langsung dibalas,” puji Gubernur Khofifah sambil menyeka air mata, atau mungkin air mata rakyat.
Katanya, penyelidikan dilakukan secara profesional dan transparan. Nah, ini penting, karena di negeri ini, transparan itu barang langka. Kalau bukan karena media sosial, kadang rakyat baru tahu ada kecelakaan setelah nasi uduk habis.
Kapolres Magetan, AKBP Erik Bangun Prakasa (namanya saja sudah bangun, bukan tidur), dengan tenang menyatakan bahwa pihaknya fokus menyelidiki sebab musabab kecelakaan. Semoga bukan cuma nyelidiki rel, tapi juga nyelidiki kenapa perlintasan tanpa palang itu masih banyak berkeliaran di negeri +62. Kalau kecelakaan itu bisa dicegah pakai teknologi dan anggaran, kenapa rakyat terus disuruh hati-hati, padahal palangnya saja absen?

“Santunan sudah diberikan, proses penyelidikan jalan, dan empati juga kami hadirkan,” ujar Pak Kapolres. Wah, lengkap! Cuma tinggal satu yang kurang: kejelasan kapan semua perlintasan sebangsa JPL 08 bisa diberi palang otomatis. Biar nggak terus-terusan rakyat dipalangi nasib.
Acara malam itu diselimuti haru dan isak tangis. Bukan karena pidato terlalu panjang, tapi karena luka masih baru dan nyawa tak bisa dibayar tunai. Tapi ya begitulah, di negeri ini santunan sering jadi ujung cerita, bukan awal perbaikan.
Dari kejadian ini, semoga bukan cuma pohon beringin yang tumbuh, tapi juga kesadaran: bahwa negara bukan hanya hadir saat bagi santunan, tapi juga wajib hadir saat palang kereta tak ada dan warga cuma bisa pasrah.
Gareng Petruk menutup beritanya dengan satu pesan: “Negara ini hebat, bisa kirim roket ke bulan, tapi kadang lupa pasang palang di rel kampung. Ndang dibenerke, rek!”
















