WONOSARI, garengpetruk.com – Wonosari panas bukan karena cuaca, tapi karena ada serah terima jabatan dua kepala sekolah. Bukan bupati, bukan camat, tapi jangan salah—di tangan kepala sekolah, masa depan anak-anak bisa jadi cemerlang… atau malah cemas tak terbilang.
Dua SD jadi sorotan: SDN 2 Wadunggetas dan SDN Pandanan. Acara seremonialnya sederhana, tapi maknanya berat, lebih berat dari PR matematika kelas 6. Ketua panitia, Pak Ekat, tampil elegan dengan pidato penuh makna dan sedikit sentilan, “Menjadi kepala sekolah itu wadah ibadah, bukan wadah nambah gaji.”
Gareng mencatat dengan hati tergelitik: Wah, kalimat ini kalau dibacakan ke DPR bisa bikin mic mati mendadak.
Pak Ekat juga menekankan pentingnya peran kepala sekolah sebagai pamomong. Nah, ini baru mantap. Bukan pamrih, bukan pamali, tapi pamomong—yang artinya ya kudu sabar, ngemong, dan gak gampang ngomel kayak guru BK kena tipu pulsa.

“Kepala sekolah itu mitra kerja sekolah,” lanjut Pak Ekat. Gareng nyelutuk dalam hati: Alhamdulillah, sekarang mitra kerja, bukan mitra proyek.
Kepala sekolah yang baru disebut-sebut masih muda. Wah, ini menarik. Biasanya kalau muda dibilang belum cukup pengalaman. Tapi kata Pak Ekat, asal punya jiwa pamomong dan niat ibadah, umur cuma angka. Jangan sampai muda-muda tapi gayanya udah kayak pejabat senior: suka tanda tangan tapi lupa baca, suka sidak tapi masuknya pas jam bubaran.
Yang bikin hati adem: acara ini penuh semangat kerjasama. “Kalau ada kekurangan, dibahas bareng, saling bantu,” katanya. Ini budaya luhur yang kudu dilestarikan, bukan cuma buat sekolah tapi juga buat DPR dan tetangganya—kalau bisa.
Gareng Petruk mencatat, pergantian kepala sekolah ini jangan jadi ajang pamer jabatan, selfie di podium, atau rebutan stempel. Tapi momentum untuk kembali pada hakikat pendidikan: memanusiakan manusia, bukan mengejar ranking akreditasi kayak ngejar endorse TikTok.
Penutup gaya Gareng:
“Semoga kepala sekolah barunya bukan cuma bisa pidato dan bikin rapat, tapi juga siap hadapi siswa yang nggak ngerjain PR, guru yang ngambekan, dan wali murid yang WA-nya kayak buzzer politik. Ayo rek, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi ladang ibadah—asal nggak dijadikan ladang proyek!”
















